Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) meminta para peternak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit hewan di tengah cuaca ekstrem dan musim kemarau panjang yang dipicu perubahan iklim.

Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin Sriyanto menjelaskan perubahan cuaca yang drastis dapat memicu virus atau bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya menjadi lebih aktif dan mudah menular.

"Karena dengan perubahan iklim, mungkin ada beberapa jenis virus bakteri yang selama ini tidak begitu aktif, begitu ada perubahan iklim, bisa lebih patogen dan sebagainya," ujarnya di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Hewan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu.

"Contohnya adalah flu burung, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi dan kambing serta African Swine Fever (ASF) pada babi," katanya.

Kemudian penyakit baru atau emerging disease yaitu penyakit yang sebelumnya tidak pernah ditemukan atau belum pernah menjadi masalah, tetapi kemudian muncul akibat perubahan lingkungan dan cuaca.

Ketiga, penyakit lama yang muncul kembali atau re-emerging disease yakni penyakit yang sebelumnya pernah ditemukan dan berhasil dikendalikan, tetapi kembali mewabah. Salah satu contohnya adalah 'Newcastle Disease' atau tetelo pada ayam.

Sriyanto melanjutkan berdasarkan data kesehatan hewan dunia, kasus penyakit ternak di berbagai negara masih tergolong tinggi dalam lima tahun terakhir. Kondisi melemah hewan akibat cuaca panas dan kekeringan dapat mempercepat penularan penyakit apabila tidak dicegah sejak dini.

Barantin memastikan terus memperketat pemeriksaan di pelabuhan dan bandara maupun titik-titik wilayah perbatasan untuk mencegah masuknya penyakit hewan dari luar negeri ke Indonesia.

"Begitu ada informasi ada wabah di suatu negara, kita harus mulai mengantisipasi. Jangan sampai wabah penyakit di negara itu masuk ke negara kita," kata dia.

Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.