Jakarta (ANTARA) - Telur merupakan salah satu sumber protein hewani lengkap yang paling mudah didapat dan diakses. Kendati demikian, masih banyak anggapan bahwa terlalu banyak mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisul.

Anggapan ini juga disampaikan oleh seorang siswa sekolah dasar (SD) di Bekasi yang menyampaikan pesan kepada petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melalui secarik kertas.

Dalam surat tersebut, siswa itu mengeluhkan menu telur yang dinilai terlalu sering disajikan dan meminta agar menu MBG lebih bervariasi supaya dia dan teman-temannya tidak mengalami bisul. Momen tersebut banyak dibagikan di media sosial TikTok yang memperlihatkan tulisan tangan sang siswa dengan gaya bahasa khas anak-anak.

Baca juga: Mengenal bisul: Pengertian dalam medis & gejala yang perlu diwaspadai

Baca juga: Penyebab bisul di kepala dan cara mengobatinya

Bisul merupakan infeksi pada kulit yang umumnya terjadi ketika bakteri Staphylococcus aureus masuk melalui folikel rambut atau luka kecil pada kulit. Infeksi tersebut kemudian menyebabkan terbentuknya benjolan berisi nanah.

Lantas benarkah telur menyebabkan bisul?

Tidak ada dasar medis yang menunjukkan bahwa makan telur dalam jumlah tertentu secara langsung menyebabkan bisul.

Telur justru merupakan sumber protein dan berbagai zat gizi. Kementerian Kesehatan menyebut telur mengandung protein, vitamin, mineral, lemak dan nutrisi lain yang dibutuhkan tubuh.

Penyebab utama bisul berkaitan dengan infeksi bakteri pada kulit, bukan karena telur yang dikonsumsi. Risiko bisul dapat meningkat ketika seseorang mengalami kerusakan pada pelindung kulit, memiliki kondisi kulit tertentu seperti eksim atau jerawat, maupun mengalami diabetes yang dapat membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi.

Mengapa telur sering dikaitkan dengan bisul?

Anggapan tersebut kemungkinan muncul dari pengalaman sebagian orang yang merasa mengalami masalah kulit setelah mengonsumsi makanan tertentu. Namun, munculnya bisul setelah makan telur tidak otomatis berarti telur menjadi penyebabnya.

Ada kondisi berbeda yang perlu diperhatikan, yaitu alergi telur. Reaksi alergi terhadap telur dapat menyebabkan gejala seperti ruam atau biduran, kemerahan dan pembengkakan, muntah, sakit perut hingga diare.

Dengan demikian, reaksi kulit akibat alergi telur tidak sama dengan bisul yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Baca juga: Cara mengatasi mata bisul yang membengkak

Bagaimana jika setelah makan telur muncul benjolan?

Jika seseorang berulang kali mengalami keluhan kulit setelah mengonsumsi telur, sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa telur menyebabkan bisul.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa seseorang dapat mengalami reaksi alergi terhadap pangan tertentu akibat respons sistem kekebalan tubuh. Jika dicurigai memiliki alergi terhadap makanan tertentu, pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter dapat dilakukan untuk memastikan penyebabnya.

Perlu dibedakan antara bisul dan reaksi alergi. Bisul biasanya berupa benjolan yang terasa nyeri dan dapat berkembang menjadi kumpulan nanah, sedangkan alergi telur lebih sering menimbulkan gejala seperti gatal, biduran, kemerahan atau pembengkakan.

Apakah telur boleh dimakan setiap hari?

Telur pada dasarnya dapat menjadi bagian dari pola makan sehat selama dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan disertai makanan bergizi lainnya.

Kementerian Kesehatan menyebut telur sebagai pangan yang padat gizi dan merupakan sumber protein berkualitas. Karena itu, telur tidak perlu dihindari hanya karena anggapan bahwa makanan tersebut menyebabkan bisul.

Yang lebih penting adalah memperhatikan jumlah konsumsi, cara pengolahan, kebersihan makanan dan keseimbangan pola makan secara keseluruhan.

Baca juga: Cara menghilangkan bekas bisul dengan bahan alami dan skincare

Cara mencegah bisul

Karena bisul umumnya berkaitan dengan infeksi bakteri pada kulit, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga kesehatan kulit:

1. Jaga kebersihan kulit

Mandi secara teratur dan bersihkan kulit, terutama setelah berkeringat.

2. Jangan memencet benjolan sembarangan

Memencet bisul dapat menyebabkan infeksi menyebar ke jaringan di sekitarnya.

3. Jaga kebersihan luka kecil

Luka atau kerusakan pada kulit dapat menjadi jalan masuk bakteri.

4. Jangan berbagi handuk atau pakaian pribadi

Bisul yang disebabkan bakteri tertentu dapat berkaitan dengan kontak dekat atau penggunaan barang pribadi secara bersama-sama.

5. Perhatikan kondisi kesehatan

Orang dengan diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami bisul karena tubuh dapat lebih sulit melawan infeksi bakteri pada kulit.

Dengan demikian anggapan banyak makan telur menyebabkan bisul adalah mitos. Tidak ada bukti bahwa konsumsi telur secara langsung menyebabkan bisul. Penyebab utama bisul adalah infeksi bakteri, terutama Staphylococcus aureus, pada folikel rambut atau kulit yang mengalami kerusakan.

Telur tetap dapat dikonsumsi sebagai sumber protein dan zat gizi. Namun, jika setiap kali makan telur muncul gejala seperti gatal, biduran atau pembengkakan, kondisi tersebut lebih patut dicurigai sebagai kemungkinan reaksi alergi dan perlu dikonsultasikan kepada tenaga medis.

Baca juga: Cara mengatasi bisul dan mencegahnya agar tak kambuh lagi

Baca juga: Cara mendiagnosis bisul dan kapan harus segera ke dokter?

Baca juga: Bisul pada kulit: penyebab, faktor pemicu, dan risiko komplikasinya

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.