Kota Jambi (ANTARA) - Balai Bahasa Provinsi Jambi menyebut Bahasa Bajau Tungkal Satu atau Duano dan Bahasa Kerinci menghadapi ancaman kepunahan seiring penurunan penggunaan dan jumlah penutur bahasa daerah tersebut.

"Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama karena bahasa daerah merupakan bagian dari identitas dan kekayaan budaya masyarakat Jambi yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya," ujar Kepala Balai Bahasa Provinsi Jambi Muhammad Zaki di Jambi, Rabu.

Berdasarkan Peta Bahasa yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kata Zaki, terdapat tujuh bahasa yang digunakan di Provinsi Jambi, yakni Melayu, Banjar, Bajau Tungkal Satu, Bugis, Jawa, Kerinci, dan Minangkabau.

"Tiga dari tujuh bahasa itu merupakan bahasa asli Jambi, yaitu Melayu, Bajau Tungkal Satu atau Duano, dan Kerinci, sedangkan empat lainnya merupakan bahasa migrasi," katanya.

Bahasa Melayu Jambi secara umum masih kuat digunakan masyarakat. Sejumlah dialek lokal mengalami penurunan penggunaan akibat dominasi bahasa Indonesia dan migrasi antarwilayah.

Baca juga: Wamendikdasmen: Bahasa daerah harus masuk dalam ekosistem AI

"Bahasa Kerinci yang wilayah penuturnya meliputi Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh juga mengalami penurunan jumlah penutur," kata Zaki.

Dominasi bahasa daerah tertentu dan mobilitas masyarakat antarwilayah menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut.

"Adapun Bahasa Bajau Tungkal Satu atau Duano memiliki jumlah penutur yang semakin sedikit dan penggunaan bahasa ini lebih banyak bertahan dalam lingkup keluarga saat ini," kata dia.

Pihaknya melakukan sejumlah upaya, antara lain pengayaan kosa kata Bahasa Indonesia melalui bahasa daerah, pengembangan kamus bahasa daerah, serta pemetaan bahasa dan sastra untuk mencegah semakin berkurang penggunaan bahasa daerah.

Pemetaan bahasa tahun ini dilakukan di Desa Rambutan Masam, Kecamatan Tembesi, Kabupaten Batanghari, dan Desa Muaro Cuban, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, sedangkan pemetaan sastra dilakukan di Kabupaten Kerinci, Tebo, dan Bungo.

Baca juga: Mendikdasmen sebut pentingnya hidupkan kembali 729 bahasa daerah

Pewarta: Agus Suprayitno
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.