Jakarta (ANTARA) - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital menerapkan beberapa strategi untuk menyediakan akses layanan telekomunikasi secara merata di seluruh wilayah, termasuk wilayah yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi di Papua.
Direktur Utama BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital Fadhilah Mathar menyampaikan bahwa hampir 98 persen dari sekitar 83.000 desa dan kelurahan di Indonesia telah terjangkau jaringan telekomunikasi.
"Masih ada sekitar 2.000 desa yang belum ter-cover," kata Fadhilah seusai acara Bakti Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu.
Fadhilah mengatakan bahwa daerah-daerah yang hingga saat ini belum terjangkau jaringan telekomunikasi sebagian besar berada di wilayah Papua.
BAKTI mencatat sekitar 700 titik permukiman di Papua belum bisa menikmati akses internet.
Pembangunan infrastruktur telekomunikasi seperti Base Transceiver Station (BTS) sudah dilakukan di sejumlah lokasi di Papua, tetapi prosesnya ada yang terkendala masalah keamanan.
Guna mempercepat penyediaan sarana telekomunikasi di wilayah itu, BAKTI akan merelokasi pembangunan infrastruktur telekomunikasi dari lokasi yang kurang aman ke tempat yang lebih aman berkoordinasi dengan aparat keamanan dan pemangku kepentingan terkait.
"Terutama untuk wilayah yang sudah ada infrastrukturnya, bagaimana kita melanjutkannya. Prosesnya sebenarnya tinggal memindahkan material dari gudang kami di Jayapura ke lokasi tujuan, misalnya ke Intan Jaya, lalu kita aktivasi on-air bekerja sama dengan operator seluler," Fadhilah menjelaskan.
Baca juga: BAKTI prioritaskan penyediaan akses internet untuk pelayanan publik
Selain merelokasi pembangunan infrastruktur pendukung, BAKTI menerapkan strategi pelepasan di wilayah-wilayah yang telah mendapatkan sarana akses internet, menawarkan penyediaan dan pengelolaan jaringan kepada operator atau mitra lainnya.
Fadhilah mengatakan, strategi itu diterapkan kalau kondisi wilayah memungkinkan operator seluler swasta mengambil alih penyediaan dan pengelolaan layanan atau menyesuaikan operasional ketika tingkat penggunaan jaringan sangat rendah.
"Sudah banyak wilayah yang kita exit. Ada beberapa ratus wilayah sekarang yang sudah exit, termasuk di NTT," kata dia merujuk pada penerapan exit strategy dalam penyediaan akses layanan telekomunikasi.
Baca juga: Harmonisasi pusat-daerah penting untuk pemerataan akses telekomunikasi
Baca juga: Menkomdigi ajak operator telekomunikasi percepat upaya pemerataan jaringan
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.