Jakarta -
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta masyarakat mampu tidak menggunakan BBM subsidi. Dia menyebut pengguna mobil bagus seharusnya tidak ikut mengonsumsi Pertalite.
Bahlil mengatakan pemerintah saat ini tengah menyusun aturan untuk mencegah pengguna BBM non-subsidi beralih ke BBM subsidi, seperti dari Pertamax ke Pertalite.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya memang kita lagi ada memformulasikan aturannya. Makanya dalam berbagai kesempatan kan saya menganjurkan agar saudara-saudara saya yang mampu, yang mobilnya bagus, tolonglah kita jangan sampai memakai BBM subsidi," ujar Bahlil, dikutip dari detikFinance, Kamis (17/9).
Petugas melayani pengisian BBM di SPBU MT Haryono, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (2/9/2026). Pemerintah Kota Balikpapan telah menerapkan jadwal pengisian BBM bersubsidi jenis pertalite untuk kendaraan roda empat pada pukul 22.00-06.00 WITA dan truk menggunakan sistem ganjil genap sebagai upaya menjaga stok BBM setelah kuota yang disetujui oleh BPH Migas hanya 51.868 kiloliter dari usulan awal sebesar 177.039 kiloliter. ANTARA FOTO/Angga Palguna/nym. Foto: ANTARA FOTO/Angga Palguna
Menurut Bahlil, peralihan pengguna BBM non-subsidi ke BBM subsidi menjadi salah satu faktor yang memicu antrean di sejumlah SPBU. Kondisi tersebut juga terjadi di Sulawesi Selatan.
Dia juga menyebut ada faktor lain yang menyebabkan antrean panjang di SPBU wilayah Sulawesi Selatan. Bahlil mengindikasikan ada pihak yang sengaja mengantre BBM untuk tujuan tertentu.
"Kemudian yang terjadi di Sulawesi Selatan kemarin itu menjadi antrian panjang karena banyak faktor. Salah satu di antaranya adalah ada memang pihak-pihak, kan teman-teman media kan udah punya data. Ngantri di pompa bensin hanya untuk, ya ada maksud lain lah kira-kira begitu," katanya.
Bahlil memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan kelangkaan BBM. Dia menyebut stok BBM nasional masih aman dan berada di atas batas minimal.
"BBM itu kan secara cadangan stok nasional kita kan dalam batas minimal nasional, 18-20 hari," terangnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman mengatakan pemerintah bersama aparat penegak hukum dan Pertamina tengah mendalami dugaan penimbunan BBM di Makassar.
Salah satu modus yang diduga digunakan adalah memodifikasi tangki kendaraan agar mampu menampung BBM lebih banyak.
"Ya dia ngisi tapi tangkinya diperbesar, contohnya kayak gitu. Tangkinya ditambah yang harusnya kapasitasnya X, ditambah X plus 50%, X plus 75%. Contohnya gitu," kata Laode.
Simak juga Video 'Bahlil Ungkap Penyebab Antrean Panjang BBM di Makassar':
(sfn/rgr)