REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Menurut dia, pemerintah menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan dengan menjadikan sektor kelistrikan serta industri domestik sebagai prioritas.
Bahlil mengatakan pemerintah menerapkan relaksasi RKAB secara terukur agar produksi batu bara mampu memenuhi kebutuhan nasional. Prioritas tersebut diberikan kepada PLN dan berbagai sektor industri yang bergantung pada pasokan batu bara.
"Saya sudah katakan bahwa kita akan melakukan relaksasi yang terukur. Kita memprioritaskan kebutuhan dalam negeri. Apa itu kebutuhan dalam negeri? Semua industri dalam negeri, termasuk PLN," kata Menteri ESDM di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Ia belum mengungkapkan besaran tambahan kuota RKAB batu bara tahun ini. Menurut dia, pemerintah akan menyampaikan keputusan tersebut pada akhir tahun setelah mempertimbangkan kondisi pasokan dan kebutuhan nasional.
"Saya akan mengumumkan nanti di akhir tahun saja. Yang jelas, untuk RKAB batu bara itu kita menjaga supply and demand."
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo memastikan kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik hampir seluruhnya telah terpenuhi. Dari total kebutuhan sekitar 152 juta ton per tahun, proses kontrak dengan pemasok kini memasuki tahap akhir.
"Jadi, kebutuhan batu bara untuk PT PLN (Persero) per tahun 152 juta ton. Dan saat ini sudah ada penugasan lebih dari 200 juta ton. Dari 152 juta ton, hampir semuanya tercukupi. Saat ini sedang berproses," tutur Darmawan.
Pernyataan tersebut memperkuat kebijakan pemerintah yang sebelumnya mempercepat penugasan pemasok batu bara menyusul gangguan pasokan batu bara kalori menengah yang sempat memengaruhi sistem kelistrikan di Pulau Jawa. Saat itu, PLN mempercepat penandatanganan kontrak dengan pemasok yang telah memperoleh penugasan dari pemerintah dan berkoordinasi intensif dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) untuk mempercepat distribusi ke pembangkit.
Seiring percepatan tersebut, pasokan batu bara kalori menengah mulai mengalir ke sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Pulau Jawa, termasuk PLTU Lontar, Labuan, Suralaya, Indramayu, Paiton, Rembang, Pacitan, hingga Tanjung Awar-Awar. Pemerintah berharap penguatan pasokan tersebut menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional sekaligus memastikan kebutuhan batu bara dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.