● Anak SD kini mudah terpapar topik sensitif (seperti LGBTQ+, AI, atau judi ‘online’) dari media sosial.
● Menghindari pertanyaan anak justru membuat mereka mencari jawaban sendiri, yang berisiko keliru.
● Dampingi anak dengan menjelaskan sesuai umurnya, dan bantu mereka untuk menggunakan media sosial secara aman.
Beberapa minggu terakhir, media sosial (medsos) dipenuhi perdebatan tentang isu lesbian, gay, biseksual, transgender, queer, dan identitas gender atau orientasi seksual lainnya (LGBTQ+). Potongan video, podcast, hingga komentar para tokoh publik berseliweran di beranda TikTok, Instagram, YouTube, bahkan grup WhatsApp keluarga. Hampir setiap hari, istilah “LGBTQ+” muncul sebagai topik yang memancing pro-kontra.
Banyak orang mengira perdebatan ini hanya menjadi konsumsi orang dewasa. Kenyataannya tidak demikian. Di beberapa sekolah dasar, guru mulai mendengar pertanyaan yang beberapa tahun lalu mungkin tidak pernah muncul: “Bu Guru, LGBTQ+ itu apa?”.
Di Lumajang, Jawa Timur, misalnya, seorang guru SD sempat viral karena menjelaskan homoseksualitas kepada murid di konten media sosial. Peristiwa ini menunjukkan bahwa bagi banyak anak, media sosial bukan lagi sekadar hiburan, melainkan juga sumber informasi.
Temuan penelitian tahun 2023 menunjukkan bahwa media sosial memberikan berbagai peluang belajar sekaligus meningkatkan paparan anak terhadap konten dan perilaku berisiko, sehingga orang tua dan guru perlu mendampingi anak agar mampu menyaring informasi yang diterimanya.
Artinya, pendekatan yang hanya mengandalkan pembatasan akses tidak cukup. Anak-anak juga membutuhkan pendampingan dan peningkatan literasi digital untuk menghadapi isu-isu sensitif seperti LGBTQ+.
Read more: Larangan medsos untuk usia di bawah 16 tahun: Bisakah melindungi anak-anak di ruang digital?
Media sosial vs guru
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak tidak selalu secara sengaja mencari informasi yang belum sesuai dengan tahap perkembangan mereka.. Melalui sistem rekomendasi (algorithmic recommendations), platform media sosial dan berbagi video dapat menyajikan konten yang tidak sesuai usia setelah anak melakukan pencarian terhadap topik-topik yang umum atau populer.
Artinya, pertanyaan tentang LGBTQ+ bukan satu-satunya pertanyaan yang belum sesuai umur yang mungkin muncul di benak anak-anak. Bisa jadi anak-anak juga bertanya tentang kecerdasan buatan (AI), perang di Timur Tengah, judi online, atau isu lain yang sedang ramai.
Selama bertahun-tahun kita menganggap sekolah adalah tempat pertama anak mengenal dunia. Sekarang asumsi itu mulai berubah, anak lebih dahulu melihat sebuah video di TikTok sebelum guru sempat menjelaskan suatu konsep di kelas. Mereka mengetahui istilah-istilah baru dari media sosial jauh lebih cepat dibandingkan buku pelajaran.
Dalam situasi seperti ini, guru sering berada pada posisi yang sulit. Di satu sisi mereka ingin memberikan jawaban yang benar, sesuai usia anak, dan selaras dengan tujuan pendidikan. Di sisi lain, belum banyak panduan praktis yang membantu guru menghadapi pertanyaan mengenai isu-isu sosial yang sedang viral.
Penelitian mengenai keamanan digital anak usia sekolah dasar menunjukkan bahwa guru sendiri mengakui perlunya penguatan kompetensi dalam mendampingi anak menghadapi risiko dunia digital, termasuk membangun kewargaan digital (digital citizenship) dan etika bermedia.
Read more: Selain terlalu ketat, rencana aturan pembatasan medsos untuk anak juga tidak tepat
Diam bukan solusi
Ketika seorang anak bertanya, “Apa itu LGBTQ+?”, tak sedikit orang dewasa yang meresponsnya dengan menghindari pembicaraan. Sebagian mungkin mengatakan, “Kamu belum cukup umur.” atau memilih mengganti topik.
Padahal, rasa ingin tahu adalah bagian alami dari perkembangan anak. Jika guru dan orang tua memilih diam, sangat mungkin jawaban pertama justru datang dari media sosial, mesin pencari, atau pembuat konten yang belum tentu menyajikan informasi secara utuh dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Komunikasi terbuka antara anak dan orang dewasa terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan yang hanya bersifat melarang. Pendampingan yang aktif membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memahami konteks informasi yang mereka temui di dunia digital.
Sekolah perlu menyiapkan jawaban, bukan sekadar aturan. Sekolah dasar tentu bukan tempat untuk membawa murid ke dalam perdebatan politik atau ideologi yang rumit. Namun, sekolah juga tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa murid datang ke kelas dengan membawa berbagai pertanyaan dari dunia digital.
Karena itu, tantangan pendidikan hari ini bukan sekadar membatasi akses informasi, melainkan membangun literasi digital, kemampuan berpikir kritis dan komunikasi yang sesuai tahap perkembangan anak.
Read more: Masih ada banyak celah dalam pengajaran literasi media digital di level sekolah
Menjawab bukan menghindari
Isu LGBTQ+ hanyalah satu dari banyak isu yang kini hadir di hadapan anak-anak melalui layar ponsel. Isunya bisa berubah-ubah, tapi yang tidak berubah adalah kebutuhan anak akan orang dewasa yang mampu menjadi tempat bertanya pertama.
Menghadapi pertanyaan seperti “Apa itu LGBTQ+?”, guru dapat menjawab, “LGBTQ+ adalah singkatan yang digunakan untuk menyebut beberapa kelompok orang berdasarkan identitas atau ketertarikan mereka. Mungkin kamu mendengar istilah itu dari media sosial atau orang lain.”
Jika murid bertanya, “Kenapa banyak orang membahasnya?”, guru dapat menjelaskan bahwa setiap masyarakat memiliki beragam pandangan terhadap suatu isu sehingga sering menjadi bahan diskusi.
Kemudian apabila muncul pertanyaan lanjutan, “Apakah LGBTQ+ itu boleh?”, guru dapat merespons, “Itu merupakan pembahasan yang berkaitan dengan nilai, budaya, agama, dan aturan yang biasanya didiskusikan oleh orang dewasa. Yang terpenting bagi kita di sekolah adalah belajar saling menghormati, tidak mengejek, dan tidak melakukan perundungan kepada siapa pun.”
Bagaimana jika ada murid yang berkata: “Teman saya bilang…”? Dalam konteks seperti itu, guru dapat mengingatkan bahwa tidak semua informasi dari teman atau media sosial itu benar. Guru bisa mengarahkan anak-anak untuk bertanya kepada guru atau orang tua dan mencari informasi dari sumber yang dapat dipercaya.
Pendekatan seperti ini membantu memenuhi rasa ingin tahu anak tanpa mengabaikan tujuan utama pendidikan, yaitu membangun karakter, literasi digital, dan sikap saling menghormati.
Read more: Indonesia perlu belajar mengatasi gagap digital dari Cina dan India