Probolinggo -

Kobaran api menghanguskan lahan seluas ratusan hektare di gunung Bromo. Asal muasal api diduga dari perapian yang dibikin oleh warga setempat.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda kawasan Gunung Bromo di wilayah Kabupaten Lumajang dan Probolinggo. Hingga Sabtu (8/8), setidaknya 176 hektare lahan dengan berbagai jenis vegetasi dilaporkan terbakar.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) menduga, kebakaran dipicu kelalaian manusia. Dugaan sementara, api berasal dari perapian yang dibuat warga saat melintas di jalur alternatif atau jalur tradisional di sekitar tebing kawasan Bromo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala BB-TNBTS Rudjanta Tjahja Nugraha mengatakan titik api pertama kali diketahui muncul di atas tebing Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Di lokasi tersebut, terdapat jalur tradisional atau jalur tikus yang menghubungkan Desa Arjosari dan Ranupane. Jalur ini kerap digunakan warga sebagai jalur alternatif.

Menurut Rudjanta, warga yang melintas diduga membuat perapian untuk menghangatkan tubuh. Dalam kondisi vegetasi yang kering dan disertai tiupan angin, api diduga kemudian membesar dan merembet ke kawasan sekitarnya.

"Yang kami duga sampai saat ini ada kemungkinan faktor manusia. Bukan faktor alam, karena awal api itu ada di puncak tebing yang terdapat jalur tradisional," ujar Rudjanta, Sabtu (8/8).

Meski demikian, BB-TNBTS masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab kebakaran. Rudjanta menegaskan dugaan sementara mengarah pada faktor ketidaksengajaan, bukan pembakaran yang dilakukan dengan sengaja.

"Kalau menurut kami sementara ini tidak disengaja. Ada yang ingin menghangatkan badan, bukan membakar untuk menjadi seperti ini. Tetapi faktor ketidaksengajaan," katanya.

Kebakaran terjadi di sejumlah kawasan Bromo, termasuk Blok Bantengan di Lumajang dan Watu Gede di Kabupaten Probolinggo. Luas lahan yang terbakar sementara mencapai 176 hektare dan masih berpotensi bertambah.

Vegetasi yang terdampak meliputi bunga edelweiss, cemara gunung, tanaman hias, serta semak belukar. Kebakaran juga dikhawatirkan berdampak terhadap habitat sejumlah satwa, seperti lutung jawa, elang jawa, dan berbagai jenis burung.

Petugas turut mengantisipasi kemungkinan sarang satwa, telur, maupun anakan ikut terbakar atau terganggu akibat kebakaran. Namun, BB-TNBTS menyebut kawasan tebing yang menjadi lokasi kebakaran tidak banyak menjadi habitat satwa besar. Satwa yang berpotensi terdampak antara lain serangga serta beberapa jenis satwa dan tumbuhan endemik kawasan Bromo Tengger Semeru.

Akibat kebakaran parah ini, empat pintu masuk Bromo ditutup total untuk aktivitas wisata. Semua itu demi keamanan dan kenyamanan wisatawan. Wisatawan yang sudah terlanjur membeli tiket bisa mengajukan perubahan tanggal atau pengembalian dana.


-------

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)