Jakarta -

Gugatan hukum Apple terhadap OpenAI soal dugaan pencurian rahasia dagang bikin suasana jadi panas. Masa depan iPhone bisa jadi taruhan menghadapi perangkat AI.

Dalam gugatan di pengadilan federal California, Apple menuduh OpenAI merekrut mantan karyawan, atau membajak karyawan yang tahu informasi rahasia Apple. Contohnya adalah Chief Hardware Officer OpenAI, Tang Tan yang mantan petinggi Apple.

Apple menyebut Tang Tan menggunakan nama proyek internal Apple saat proses rekrutmen, meminta kandidat membawa komponen perangkat Apple ke sesi wawancara, hingga meminta informasi mengenai produk yang belum diumumkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apple juga menuduh mantan insinyur mereka, Chang Liu, tetap mengakses sistem internal perusahaan setelah keluar dari Apple dan membawa informasi yang berkaitan dengan proyek hardware yang masih dirahasiakan. Menurut Apple, tindakan tersebut bukan ulah perorangan, melainkan modus yang didukung para pimpinan OpenAI.

OpenAI tentu saja membantah seluruh tuduhan tersebut. Perusahaan besutan Sam Altman itu mengklaim tidak ada bukti dan menegaskan tetap percaya pada persaingan sehat dan kebebasan orang untuk bekerja di perusahaan mana pun.

Namun, banyak pengamat menilai inti persoalan bukan sekadar dugaan pencurian rahasia dagang, seperti dilansir The Verge dari podcast Decoder, Senin (27/7/2026). Yang jadi pertaruhan justru adalah masa depan industri perangkat konsumen.

OpenAI diketahui telah mengakuisisi perusahaan hardware io Products yang didirikan mantan desainer legendaris Apple, Jony Ive, senilai sekitar USD 6,5 miliar pada 2025. OpenAI berambisi menghadirkan perangkat AI baru yang tidak lagi bergantung pada smartphone tradisional.

Nama Jony Ive tidak disebut dalam perkara Apple vs OpenAI, namun dia tetap menjadi sorotan karena memimpin pengembangan perangkat AI generasi baru OpenAI. Sejumlah laporan menyebut perangkat pertama OpenAI kemungkinan berupa perangkat portabel tanpa layar atau mobile smart speaker yang dirancang sebagai cara baru manusia berinteraksi dengan AI.

Di sisi lain, gugatan Apple berpotensi menghambat ambisi tersebut. Dilansir dari TechCrunch, dalam podcast Equity, proses hukum akan memperlambat pengembangan produk OpenAI, meskipun jika seandainya Apple kalah di pengadilan.

Bagi Apple, gugatan ini merupakan upaya melindungi teknologi dan rantai pasok yang selama bertahun-tahun menjadi fondasi kesuksesan iPhone. Sementara bagi OpenAI, perkara tersebut datang di saat yang kurang ideal karena perusahaan tengah menyiapkan ekspansi bisnis hardware sekaligus menghadapi berbagai tantangan hukum lain.

Pada akhirnya, sengketa ini bukan sekadar soal siapa yang benar atau salah di pengadilan. Pertarungan Apple dan OpenAI mencerminkan persaingan untuk menentukan siapa yang akan memimpin era post-smartphone, ketika perangkat AI diprediksi menjadi pusat interaksi manusia dengan teknologi.

(fay/ask)

TAGS

LIHAT LAINNYA