Jakarta -
Sejak kapan janin mulai bisa mengenali siang malam? Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di benak Bunda, terutama ketika mulai merasakan pola gerakan janin yang lebih aktif pada waktu tertentu.
Tubuh manusia memiliki jam biologis internal yang mengikuti siklus harian, termasuk perubahan antara siang dan malam. Jam biologis tersebut berperan dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti tidur, metabolisme, serta aktivitas harian. Pola tersebut dikenal sebagai ritme sirkadian.
Lantas, kapan sebenarnya jam biologis mulai bekerja? apakah janin sudah dapat mengenali siang malam ketika masih berada di dalam kandungan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu ritme sirkadian?
Ritme sirkadian merupakan pola perubahan fungsi tubuh yang berlangsung dalam siklus sekitar 24 jam. Pada manusia, ritme ini membantu mengatur kapan tubuh merasa mengantuk, terjaga, lapar, serta berbagai proses biologis lainnya.
Siklus tersebut terutama dipengaruhi oleh perubahan terang dan gelap yang terjadi sepanjang hari. Ketika ritme sirkadian terganggu, misalnya karena jet lag, kurang tidur, atau pola kerja yang tidak teratur, berbagai fungsi tubuh juga dapat ikut terpengaruh.
Temuan baru tentang jam biologis janin
Mengutip laman Medicalxpress, sebuah studi terbaru dari para peneliti Washington University in St. Louis (WashU) memberikan gambaran menarik mengenai perkembangan jam biologis sebelum bayi lahir.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Biological Rhythms menemukan bahwa ritme sirkadian pada janin tikus berkembang secara bertahap dan kemudian tersinkronisasi dengan ritme aktivitas serta istirahat induknya sebelum kelahiran.
"Kita tahu bahwa gangguan ritme sirkadian selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan pola tidur dan ritme harian pada bayi. Gangguan pada tahap awal ini juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi mengalami gangguan suasana hati, seperti kecemasan dan depresi, di kemudian hari," ujar Nikhil Lokesh, penulis studi sekaligus ilmuwan peneliti di bidang biologi di WashU Arts & Sciences.
"Memahami kapan jam biologis janin mulai berfungsi membantu kita mengidentifikasi periode perkembangan yang sensitif, ketika gangguan ritme sirkadian dapat memberikan dampak jangka panjang, serta bagaimana dampak tersebut dapat dicegah atau diperbaiki."
Jam biologis janin di dalam kandungan
Dalam studi terbaru ini, para ilmuwan WashU mengembangkan metode untuk mengamati aktivitas jam biologis sirkadian pada janin ketika masih berkembang di dalam rahim.
Para ilmuwan menggunakan tikus yang direkayasa secara genetik. Pada tikus tersebut, protein bercahaya bernama luciferase yaitu protein yang sama yang membuat kunang-kunang dapat mengeluarkan cahaya, dihubungkan dengan protein jam biologis yang berperan dalam mengatur ritme sirkadian.
Ketika tikus jantan yang membawa protein yang telah dimodifikasi tersebut kawin dengan tikus betina normal, protein jam biologis yang diberi penanda akan muncul pada janin yang sedang berkembang, tetapi tidak terdapat pada jaringan tubuh induknya.
Tikus yang sedang hamil kemudian diberi air minum yang mengandung bahan kimia tertentu. Bahan kimia tersebut akan bereaksi dengan luciferase dan menghasilkan cahaya. Setiap kali protein jam biologis pada janin aktif, tubuh janin akan memancarkan cahaya.
Para peneliti mendeteksi cahaya dari janin tersebut menggunakan kamera dengan tingkat sensitivitas yang sangat tinggi. Dengan merekam waktu munculnya cahaya, mereka dapat mengidentifikasi pola siklus yang jelas dari aktivitas protein jam biologis pada bayi tikus selama mereka berkembang di dalam rahim induknya.
Janin menerima sinyal waktu dari Bunda melalui plasenta
"Kami menemukan ritme siang-malam yang jelas pada anak tikus yang mulai tersinkronisasi dengan siklus aktivitas dan istirahat induknya selama minggu terakhir kehamilan. Periode ini setara dengan trimester ketiga pada manusia," kata Lokesh.
Menurut Lokesh, temuan tersebut menunjukkan bahwa mekanisme jam biologis terbentuk lebih awal selama perkembangan. Setelah itu, janin mendapatkan sinyal dari ibu yang membantu menyesuaikan waktu kerja jam biologis tersebut. Jadi, meski belum dapat melihat siang dan malam secara langsung, janin tampaknya sudah menerima sinyal waktu dari tubuh ibu.
"Ritme siang dan malam menunjukkan bahwa mekanisme jam biologis terbentuk sejak awal perkembangan dan kemudian menerima sinyal untuk menyesuaikan waktu dari induknya," tuturnya.
Bagaimana janin bisa mengenali siang dan malam?
Erik Herzog, Viktor Hamburger Distinguished Professor bidang biologi sekaligus penulis senior studi, mengatakan para peneliti menemukan adanya ritme harian yang bergerak melalui plasenta dari ibu ke bayi sebelum janin dapat merasakan cahaya.
"Yang terpenting, kami menemukan adanya ritme harian yang ditransmisikan melalui plasenta dari ibu ke bayi, bahkan sebelum janin dapat merasakan cahaya," kata Erik Herzog.
Dengan kata lain, kemampuan janin untuk mengikuti ritme siang dan malam tidak harus dimulai dari kemampuan melihat cahaya. Tubuh ibu dapat memberikan petunjuk waktu melalui berbagai sinyal biologis.
Salah satu sinyal yang menjadi perhatian peneliti adalah hormon glukokortikoid. Hormon tersebut berpotensi berperan sebagai sinyal waktu bagi jam biologis janin. Hormon yang berkaitan dengan respons stres ini secara normal mengalami peningkatan dan penurunan sepanjang hari di bawah kendali jam biologis internal sang induk.
Hormon, obat-obatan, dan implikasi klinis
Glukokortikoid sintetis secara rutin diberikan kepada ibu hamil yang berisiko mengalami kelahiran prematur. Namun, pemberiannya sering kali tidak mempertimbangkan waktu dalam sehari ketika kadar hormon tersebut secara alami mengalami perubahan.
Para peneliti menemukan bahwa pemberian steroid tersebut setiap hari kepada induk tikus mempercepat proses sinkronisasi ritme harian anak tikus dengan waktu setempat. Temuan ini dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan bagaimana dan kapan dokter memberikan obat untuk menangani kondisi selama kehamilan.
Selama penelitian, para peneliti juga mengamati hubungan yang kuat antara kegagalan berkembangnya aktivitas gen jam biologis sirkadian pada janin dengan kegagalan proses persalinan.
"Kami belum dapat mengatakan apakah tidak adanya ritme tersebut berkontribusi terhadap masalah perkembangan atau justru hanya mencerminkan adanya masalah perkembangan. Namun, pengamatan ini menunjukkan bahwa aktivitas jam biologis sirkadian mungkin berkaitan erat dengan perkembangan janin yang sehat," kata Lokesh.
Lokesh mengatakan temuan tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga ritme sirkadian yang stabil selama kehamilan. Menurutnya lebih dari 80 persen populasi dunia terpapar cahaya buatan pada malam hari yang dapat mengganggu ritme harian, termasuk orang yang sedang hamil.
"Memahami kapan dan bagaimana jam biologis mulai bekerja membantu para ilmuwan mengidentifikasi periode perkembangan yang sensitif, ketika gangguan ritme sirkadian dapat memberikan dampak jangka panjang," kata Lokesh.
Lokesh berharap temuannya dapat membantu mengarahkan pengobatan medis, memberikan informasi bagi praktik klinis, serta membentuk kebijakan kesehatan masyarakat yang bertujuan melindungi kesehatan ritme sirkadian bayi sejak dalam kandungan hingga masa awal kehidupan.
Semoga informasinya bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)