Jakarta -

Manager Tim Nasional Esports Indonesia, Glorya Famiela Ralahalo, mengungkapkan alasan timnas tidak jadi memberangkatkan para atlet Martial Arts ke Asian Games 2026. Dari hasil pertimbangan banyak elemen, meraih medali di nomor pertandingan ini dinilai tidak realistis.

Famiela menjelaskan, untuk memberangkatkan atlet yang bertanding ke Jepang, proses penilaian dari Kemenpora ada dua. Dirinya menyebutkan, semua itu berdasarkan sistem kompetisi di masing-masing nomor pertandingan.

"Jadi proses untuk ke main event itu kan ada dua, yaitu melewati kualifikasi, sama gak melewati kualifikasi, artinya langsung straight go to the Aichi Nagoya. Nah kebetulan game-game Jepang itu straight to Aichi Nagoya. Tetapi game-game yang selain game Jepang, Mobile Legends, HOK, Naraka, Identity sama PUBG M harus melewati kualifikasi. Dan puji Tuhannya kita lolos semua. Nah untuk game-game Jepang, caranya supaya kita bisa straight to the Aichi Nagoya," kata Famiela kepada detikINET di Hotel Mercure, Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Femiela melanjutkan, selama proses review, tim yang bertugas memastikan kelayakannya pun mengecek semua aspek termasuk sepak terjang para atlet di game tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah masuk akal bila mengirim atlet tersebut dalam upaya meraih medali.

"Karena dengan keterbatasan dana yang sekarang, efisiensi yang sekarang, otomatis Kemenpora tidak mau memberangkatkan semuanya gitu. Walaupun kalau dari PB ESI sendiri sudah semaksimal mungkin untuk memberikan target, review dan lain-lain," ujar Femiela.

Namun memang Famiela mengakui bahwa Martial Arts di Asian Games 2026 cukup unik. Perebutan medali di nomor pertandingan ini punya konsep yang berbeda dibandingkan pertandingan lain di cabor esports.

Ia menjelaskan, di nomor pertandingan Martial Arts ada tiga game yang akan dipertandingkan, yakni Street Fighter 6, Tekken 8, dan The King of Fighters XV. Menariknya, dari tiga game ini hanya menawarkan satu medali. Jadi alih-alih memberikan medali terpisah untuk setiap judul, pada tahun ini mereka mengelompokkan ketiganya dalam satu kategori.

"Jadi otomatis kalau misalnya ini ya, kita kompetisinya banyak yang Tekken doang. Tapi gimana, Street Fighter sama KOF. Kalau Street Fighter-nya oke, Tekken-nya oke, gimana dengan KOF-nya. Jadi dari hasil kesimpulan tersebut lah, maka dari review Kemenpora, kayaknya ini tidak bisa diberangkatkan. Karena tidak realistis untuk medal gitu," ucapnya.

Padahal Famiela mengaku, PB ESI percaya diri bahwa di nomor pertandingan ini para atlet yang bertanding akan meraih medali. Oleh sebab itu, mereka berupaya keras agar Indonesia bisa mengikuti nomor pertandingan Martial Arts di cabor esports Asian Games 2026.

"Kita selalu percaya diri. Karena menurut kita, after dari review Kemenpora, kita kan mau masukin mereka ke pelatnas. Kita gas terus, kita punya ajang try out, training camp sampe ke Jepang. Itu tuh udah semua kita susun. Tapi ternyata mau dikata apa dari tim Kemenporanya sendiri, ternyata berkata lain kan gitu," pungkasnya.

(hps/fay)

TAGS

LIHAT LAINNYA