Akan rilis 1 Oktober 2026, film Lobang Buaya sutradara dan aktris hadir di Lampung
Minggu, 27 September 2026 21:18 WIB
Hanung Bramantyo sutradara film Lobang Buaya (ANTARA/HO-Dokumen Pribadi)
Film horor sering diremehkan hanya sebagai mesin pencipta kaget
Bandarlampung (ANTARA) - Menjelang penayangan serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, sutradara Hanung Bramantyo bersama aktris Anya Zen menyambangi Kota Bandar Lampung untuk menggelar rangkaian promosi film horor-misteri terbarunya, Lobang Buaya.
Kolaborasi antara rumah produksi Adhya Pictures dan Dapur Film ini menghadirkan penayangan perdana secara khusus (special screening) serta diskusi akademik pada Sabtu (26/9).
Acara dimulai dengan special screening yang digelar di Boemi Kedaton XXI. Pemutaran ini memberikan kesempatan bagi penonton di Lampung untuk lebih dulu menyaksikan investigasi Letnan Soegeng (diperankan oleh Baskara Mahendra).
Film Lobang Buaya mengambil latar waktu satu tahun sebelum tragedi kelam 1965. Mengusung genre horor-misteri, film ini berfokus pada penyelidikan kasus pembunuhan berantai berdarah dingin yang menargetkan tokoh penting desa setiap tanggal 30.
Alih-alih mengandalkan elemen hantu gaib, sutradara membangun teror psikologis yang menyajikan kejutan alur (plot twist) yang sukses menuai ketegangan di dalam studio.
Rangkaian acara kemudian berlanjut ke lingkungan akademis Universitas Bandar Lampung (UBL). Hanung Bramantyo hadir sebagai pembicara utama dalam sesi gelar wicara bertajuk “From Fact to Frame: Semiotika Sinema: Membaca Pesan Tersirat di Balik Lensa”.
Di hadapan ratusan mahasiswa, dosen, dan pegiat film lokal, Hanung membedah proses merangkai simbol fiksi melalui kamera tanpa menyinggung sensitivitas sejarah bangsa.
“Film horor sering diremehkan hanya sebagai mesin pencipta kaget. Di Lobang Buaya, kami membuktikan sebaliknya. Setiap sudut pengambilan gambar, pencahayaan temaram, hingga tata suara dirancang sebagai bahasa semiotika,” tegas Hanung di aula UBL.
Ia menambahkan bahwa ada pesan tersirat mengenai dendam, trauma, dan kritik kekuasaan yang disisipkan di balik lensa, menjadikan kamera sebagai alat tafsir dan bukan sekadar perekam adegan.
Sesi diskusi ini mendapat sambutan hangat dari civitas akademika UBL. Dekan dan jajaran dosen mengapresiasi langkah sang sutradara yang membuka ruang dialektika terkait batasan etis antara rekonstruksi fiksi dengan luka sejarah kolektif masyarakat.
Karya sinema yang dibintangi oleh Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, dan Mathias Muchus ini siap tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026.
Pewarta : Asih Aditiya Wulandari
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.