Transisi energi terbarukan tidak harus di-push, karena kita masih punya energi fosil yang perlu dimanfaatkan.

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof Rinaldy Dalimi mengatakan, transisi energi terbarukan tidak perlu memaksa mematikan atau menghentikan pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), karena peralihan harus berjalan berdampingan.

"Transisi energi terbarukan tidak harus di-push, karena kita masih punya energi fosil yang perlu dimanfaatkan," kata Rinaldy, di Jakarta, Rabu, saat menjadi narasumber pada diskusi bertajuk "Transisi Energi Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan."

Menurut dia, energi yang saat ini ada yaitu berupa PLTU tidak perlu dimatikan untuk diganti dengan energi terbarukan secara cepat, mengingat ekosistem yang ada tidak mungkin bisa langsung menerima perubahan.

Rinaldy mengatakan bahwa keputusan untuk mematikan PLTU harus berada di tangan PLN, karena mereka yang memiliki otoritas penuh terhadap keberlangsungan listrik di Indonesia.

Memang kata dia, Indonesia harus bersama negara lain menyukseskan zero emission dan melakukan transisi energi terbarukan.

"Namun Indonesia bukan penanggung jawab terhadap perubahan iklim, karena kita bukan penghasil emisi terbesar kita juga bukan pengonsumsi batu bara terbesar kita tidak masuk," ujarnya.

Oleh karena itu, jangan memaksa untuk mematikan PLTU sesuai dengan konsep lingkungan. Karena kalau itu dilakukan, ketahanan energi akan terganggu, PLN bisa bangkrut.

"Biarkan PLN mematikan PLTU-nya sesuai dengan nilai keekonomian PLTU itu. Umur PLTU 50 tahun. Biarkan setiap PLTU sampai kepada umur keekonomian," katanya menambahkan.

Baca juga: Pimpinan MPR: Pembenahan subsidi dan transisi energi harus beriringan

Baca juga: Peneliti: Tata kelola ekspor batubara dukung transisi energi

Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.