Sumedang (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (FTG Unpad) Prof. Nana Sulaksana mengatakan aktivitas gunung api yang berada di wilayah berdekatan tidak memiliki keterkaitan secara langsung karena setiap gunung memiliki sistem magmatik yang berbeda.
Prof. Nana di Sumedang, Jawa Barat, Senin, mengatakan bahwa perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kedalaman dapur magma, jalur perjalanan magma, serta kondisi geologi dan batuan yang dilalui magma sebelum mencapai permukaan.
"Jadi secara langsung tidak ada hubungan antara satu gunung dengan gunung lainnya," katanya.
Ia menjelaskan aktivitas setiap gunung api perlu dipantau berdasarkan karakteristik dan data gunung masing-masing sehingga peningkatan aktivitas pada satu gunung tidak dapat dijadikan indikator langsung terhadap gunung lainnya.
"Setiap gunung api itu memiliki sistem sendiri-sendiri, tergantung kedalaman dapur magma, perjalanan magma, dan batuan yang dilalui," ujarnya.
Pernyataan tersebut merupakan respons dari aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia juga tercatat mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan dengan Gunung Anak Krakatau, di antaranya Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, dan Sinabung.
Dirinya meyakini kondisi tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan langsung antaraktivitas gunung api.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Nana juga mengatakan Gunung Anak Krakatau sendiri telah dipantau secara intensif menggunakan berbagai instrumen untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkaniknya.
Pemantauan dilakukan melalui seismograf untuk mendeteksi aktivitas kegempaan akibat pergerakan magma serta perangkat geodetik berbasis GPS untuk mengukur perubahan atau pergerakan mikro tubuh gunung.
"Dalam kondisi pemantauan itu ada beberapa variabel yang dipantau, di antaranya pergerakan magma dari dalam perut bumi. Pergerakan ini terlihat dari seismograf yang dipasang minimal di tiga titik di tubuh gunung api," katanya.
Selain itu, pemantauan diperkuat dengan pengamatan visual terhadap kepulan asap, CCTV yang terhubung internet, serta analisis multi-gas untuk mengetahui perubahan aktivitas gunung.
Data letusan masa lalu dan peta geologi juga digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan status gunung api.
Nana menuturkan Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana geologi yang tinggi karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik dan kawasan Cincin Api Pasifik.
"Konsekuensinya memang kita rawan gempa dan erupsi, tetapi di sisi lain kondisi ini juga memberikan potensi energi panas bumi dan sumber daya mineral," katanya.
Ia mengimbau masyarakat mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari otoritas terkait dalam menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau serta tidak mengaitkan aktivitas antar-gunung api tanpa berdasarkan data ilmiah.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Akademisi: Aktivitas gunung api yang bersamaan tidak saling berkaitan
Pewarta: Ilham Nugraha
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.