Moskow (ANTARA) - Pemerintah Austria menyatakan pengiriman kargo di sepanjang Sungai Danube yang melintasi wilayah negara itu nyaris terhenti akibat sangat rendahnya tingkat air di sungai tersebut, sedangkan lalu lintas kapal pesiar juga mengalami gangguan secara signifikan.

"Pengiriman kargo praktis terhenti, sementara pelayaran kapal pesiar juga sangat dibatasi," demikian pernyataan Kementerian Inovasi, Mobilitas, dan Infrastruktur Austria pada Selasa (4/8).

Ketinggian air di beberapa bagian Sungai Danube yang tidak dilengkapi dengan struktur hidraulik berada sekitar 60 sentimeter di bawah rata-rata ketinggian air rendah jangka panjang, kata kementerian tersebut.

Kedalaman jalur sungai yang dapat dilewati pelayaran saat ini sedalam sekitar dua meter di Lembah Wachau, Austria, dan 1,8 meter di sebelah timur Wina, tambah pernyataan tersebut.

Kementerian tersebut menyatakan belum ada larangan navigasi yang diberlakukan. Namun, kapal kargo terpaksa mengurangi muatannya secara signifikan, sehingga saat ini angkutan kereta api dan jalan raya menjadi lebih menguntungkan secara ekonomi.

Banyak pula pelayaran sungai yang beroperasi dengan pembatasan atau bahkan dibatalkan sama sekali, kata para pejabat Austria.

Kementerian tersebut membandingkan situasi saat ini dengan periode air surut ekstrem pada tahun 2003 dan 2018. Periode air surut tahun ini dimulai lebih awal dari biasanya, yaitu pada Agustus; padahal kondisi semacam itu lazim terjadi pada akhir musim panas atau musim gugur.

Menurut kementerian tersebut, operasi pengerukan terus dilakukan bekerja sama dengan operator jalur air pedalaman negara, Viadonau, bersamaan dengan langkah-langkah lain untuk menjaga kelancaran navigasi.

Austria, seperti juga negara-negara lain di Eropa Tengah, sedang mengalami periode panas ekstrem dan kekeringan. Pada Selasa (4/8), Wina mencatatkan rekor suhu baru untuk ibu kota Austria tersebut, dengan suhu mencapai 40,2 derajat Celsius.

Gelombang panas dan penurunan permukaan air Sungai Danube juga telah mengganggu kegiatan pelayaran dan operasi energi di Hungaria dan Rumania.

Sumber: Sputnik

Pewarta: Fransiska Ninditya
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.