Bukittinggi (ANTARA) - Air bah dari hulu sungai Gunung Marapi, Sumatera Barat menerjang lokasi sisa bencana banjir lahar dingin di Bukik Batabuah, Kabupaten Agam yang sedang dilakukan pengerjaan pembangunan jembatan penyeberangan warga.
Wali Nagari (Kepala Desa) Bukik Batabuah, Firdaus, Jumat (11/9) mengungkap air bah membawa material kayu dan batu pada Kamis (10/9) sekitar jam 12.30 WIB.
Menurut Firdaus, kondisi di sekitar lokasi pembangunan sempat terlihat normal sekitar setengah jam sebelum air bah datang dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadi aliran air dalam jumlah besar.
"Setengah jam sebelum kejadian saya kebetulan lewat sana, tidak ada terjadi apa-apa dan tanda-tanda apa pun," kata Firdaus.
Setelah kembali ke kantor, ia mendapat informasi mengenai aliran air besar dari arah Nagari Sungai Pua yang kemudian disertai video sebagai peringatan kepada warga agar meningkatkan kewaspadaan.
Informasi tersebut membuat pihak nagari segera memantau kondisi di sekitar lokasi, terutama karena aliran air diketahui bergerak dari kawasan hulu menuju wilayah Bukik Batabuah.
Air bah yang datang kemudian membawa material berupa kayu dan batu-batuan dari kawasan hulu sehingga meningkatkan volume dan kekuatan aliran yang melewati lokasi pembangunan jembatan.
Firdaus menjelaskan, kondisi cuaca di sekitar Simpang Bukik Batabuah justru tidak menunjukkan adanya hujan ketika air bah terjadi, sedangkan hujan deras berlangsung di kawasan Gunung Marapi dan Batang Selasih.
"Kalau kondisi hujan, di lokasi Simpang Bukik itu tidak ada terjadi hujan sama sekali, namun tanpa kami ketahui rupanya di Gunung Merapi dan di Batang Selasih hujan sangat deras," katanya.
Besarnya aliran air membuat aktivitas pembangunan jembatan dihentikan sementara demi keselamatan pekerja dan mengantisipasi kemungkinan datangnya aliran susulan.
Penghentian pekerjaan dilakukan sampai kondisi aliran kembali aman, sementara material dan aktivitas pembangunan di sekitar lokasi juga disesuaikan dengan kondisi sungai.
Menurut Firdaus, menjelang Kamis sore aliran air mulai kembali normal sehingga pekerjaan pembangunan jembatan direncanakan dilanjutkan pada Jumat pagi apabila kondisi tetap aman.
Peristiwa tersebut kembali mengingatkan masyarakat terhadap pentingnya penataan alur sungai dan konstruksi jembatan di kawasan yang sebelumnya terdampak banjir bandang.
Firdaus mengatakan, setelah bencana 2024, masyarakat telah meminta agar jembatan lama yang memiliki tiang dibongkar serta alur sungai diperlebar dan diperdalam untuk mengurangi risiko ketika terjadi aliran air dalam jumlah besar.
Permintaan tersebut kemudian menjadi bagian dari penanganan infrastruktur pascabencana, termasuk pekerjaan pelebaran dan pendalaman alur sungai di sekitar lokasi jembatan.
Menurut Firdaus, kejadian air bah pada Kamis menunjukkan pentingnya pekerjaan tersebut karena aliran air yang datang dari kawasan hulu dapat bergerak dalam jumlah besar meskipun tidak terjadi hujan di lokasi jembatan.
"Ini adalah sebuah bukti nyata yang saya sampaikan pada tahun 2024, waktu kejadian pertama tanggal 5 Mei dan tanggal 11 April 2024 itu, saya meminta agar jembatan yang punya tiang itu agar dirobohkan dan juga sungai itu diperlebar dan diperdalam," katanya.
Ia menilai pelebaran dan pendalaman alur sungai membuat aliran air saat kejadian dapat melewati kawasan tersebut dengan lebih lancar sehingga tidak kembali meluap seperti yang dikhawatirkan masyarakat sebelumnya.
Dengan kondisi aliran yang telah kembali normal, pembangunan jembatan diharapkan dapat dilanjutkan sesuai rencana dengan tetap memperhatikan kondisi cuaca dan potensi aliran air dari kawasan hulu.