Setiap kali muncul teknologi baru, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: pekerjaan apa yang akan hilang? Kehadiran kecerdasan buatan (AI) memunculkan kekhawatiran serupa. World Economic Forum (WEF) memperkirakan 92 juta pekerjaan tergeser pada 2030. Yang jarang disebut: pada periode yang sama, diperkirakan muncul 170 juta pekerjaan baru, sehingga secara neto terjadi penambahan 78 juta pekerjaan.

International Labor Organization (ILO) sampai pada kesimpulan senada. Dengan menilai hampir 30.000 tugas kerja, ILO menemukan satu dari empat pekerjaan di dunia bersinggungan dengan AI. Namun menyimpulkan bahwa sebagian besar pekerjaan tersebut akan bertransformasi, bukan lenyap. Bahkan pada pekerjaan yang paling terpapar, skor otomasi rata-rata hanya 0,7 dari 1—selalu tersisa tugas yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada mesin.

Di Indonesia, kajian ILO Juli 2026 mencatat 21,7% pekerjaan berada pada okupasi dengan paparan AI di atas tingkat minimal. Angka ini setara sekitar 32 juta dari 146,54 juta penduduk bekerja per Agustus 2025 (BPS). Namun hanya 3,2% pekerja dewasa dan 4,0% pekerja muda yang masuk kategori paparan tertinggi. Di ASEAN, jumlah pekerja pada okupasi terpapar justru naik dari 66 juta (2017) menjadi 80 juta (2025)---paparan menandakan di mana perubahan terjadi, bukan berapa banyak pekerjaan hilang.

Grafik 1. Paparan AI generatif di Indonesia dan negara ASEAN terpilih.

Perubahan teknologi selalu menghasilkan dua dampak sekaligus: sebagian pekerjaan berkurang kebutuhannya, tetapi muncul permintaan terhadap jenis pekerjaan baru. Revolusi industri melahirkan operator mesin; revolusi komputer melahirkan programmer dan data scientist. Pola itu juga terjadi di Indonesia dimana pemberi kerja memperkirakan pertumbuhan bersih spesialis AI dan machine learning sebesar 52% serta big data 26% hingga 2030, sementara kebutuhan entri data turun 29%. 

Grafik 2. Peran yang tumbuh dan tergeser di pasar kerja Indonesia, 2025–2030.

Perbedaannya, pekerjaan baru akibat AI tidak hanya soal kemampuan teknis membangun model. Sebagian besar berada pada titik pertemuan teknologi, organisasi, dan manusia. Dari penjelasan tersebut, terdapat dugaan bahwa pekerjaan (baru) tersebut akan terbagi ke dalam lima fungsi:

Pertama, design: merancang tujuan, alur kerja, dan peran AI dalam proses bisnis, melahirkan profesi seperti AI Agent Developer dan Prompt Architect. Sebanyak 74% pemberi kerja Indonesia berencana merekrut untuk keterampilan ini, di atas rata-rata global 69%.

Kedua, implementation: mengintegrasikan AI ke proses kerja sehari-hari. Microsoft Work Trend Index 2026 mencatat 33% pekerja Indonesia tergolong pengguna AI tingkat lanjut, dua kali rata-rata global. Namun hanya 29,4% percakapan AI di Indonesia terkait pekerjaan: terendah di ASEAN, dibanding Vietnam 52%. Pekerja bergerak lebih cepat daripada organisasinya, membuka ruang bagi AI Adoption Specialist dan AI Transformation Manager.

Ketiga, oversight: mengawasi kualitas hasil AI. Kesadaran ini sudah tumbuh: 93% pengguna AI di Indonesia memperlakukan keluarannya sebagai titik awal, bukan jawaban akhir, dan 60% menempatkan kendali mutu sebagai prioritas, keduanya di atas rata-rata global. Yang belum terbangun adalah pelembagaannya, lewat AI Reviewer, AI Auditor, dan AI Governance Officer.

Keempat, optimization. PwC, yang menganalisis lebih dari satu miliar iklan lowongan di 27 negara, menemukan perusahaan dengan paparan AI tertinggi mencatat pertumbuhan produktivitas 34% sepanjang 2018–2025, dibanding 24% pada paparan terendah. Selisih itu bukan soal akses teknologi, melainkan kualitas penggunaannya yang menjadi kebutuhan bagi Prompt Analyst dan AI Process Optimizer.

Kelima, translation: kelompok yang akan berkembang paling besar. AI menghasilkan teks, gambar, hingga analisis dengan cepat, tetapi tidak memahami tujuan organisasi atau konteks kebijakan publik secara otomatis. Pasar sudah menghargainya: premium upah untuk keterampilan AI mencapai 62% pada 2026, naik dari 25% pada 2024. Lowongan tingkat pemula di bidang terpapar AI bahkan tujuh kali lebih mungkin mensyaratkan keterampilan yang dulu dianggap senior, seperti penilaian dan kepemimpinan yang melahirkan AI Strategy Consultant dan AI Policy Advisor.

Kelima kelompok itu punya kesamaan: nilainya bukan pada kemampuan menggunakan AI, tetapi kemampuan berpikir sebelum AI bekerja. Struktur pekerjaan Indonesia bergerak ke arah tersebut: porsi tugas yang dikerjakan terutama oleh manusia diperkirakan menyusut dari 46% menjadi 32% pada 2030, sementara tugas yang terutama oleh teknologi hanya naik dari 23% ke 33%. Yang tumbuh paling konsisten adalah kategori di antaranya: tugas kolaboratif manusia dan mesin, dari 31% menjadi 35%.

Grafik 3. Pergeseran batas manusia–mesin di Indonesia, 2025 dan proyeksi 2030.

Sumber nilai ekonomi pun bergeser. Selama bertahun-tahun, seseorang dinilai karena mampu menghasilkan output lebih cepat dari orang lain. Kini, dengan bantuan AI, hampir semua orang bisa menghasilkannya dalam hitungan menit—sehingga output itu sendiri tidak lagi jadi pembeda utama. Yang semakin bernilai adalah kemampuan merumuskan masalah dan menghubungkan informasi menjadi solusi relevan. 

Dari lima keterampilan dengan permintaan paling melonjak di Indonesia hingga 2030, dua di antaranya adalah cara berpikir: berpikir kreatif (77%) dan berpikir analitis (64%). Sebanyak 62% pekerja Indonesia sendiri menilai berpikir kritis makin penting seiring meluasnya AI, jauh di atas rata-rata global 46%.

Implikasinya besar bagi pendidikan dan kebijakan ketenagakerjaan. Peningkatan kompetensi AI tetap diperlukan, tetapi tidak cukup berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi. Selain itu, hal penting lain adalah berpikir kritis, berpikir sistem, analisis kebijakan, dan pengambilan keputusan berbasis bukti meski skor PISA 2022 Indonesia untuk matematika adalah 366, jauh di bawah rata-rata OECD 472, dan hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai level penalaran tertinggi, dibanding rata-rata OECD (9%).

Karena itu, Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional sebaiknya tidak berhenti pada infrastruktur dan talenta teknis; kerangka kompetensi penalaran perlu masuk eksplisit ke kurikulum vokasi. 

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita jawab bukan lagi “pekerjaan apa yang akan digantikan AI?”, melainkan “kemampuan apa yang membuat manusia tetap bernilai di era AI?” Jawabannya, bukan sekadar kemampuan menghasilkan output, tetapi kemampuan membangun ide, konsep, dan kerangka berpikir yang kemudian diterjemahkan menjadi solusi nyata melalui AI.

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan CV ringkas dan foto diri.