Makassar (ANTARA) - Kemajuan teknologi yang ditandai dengan hadirnya artificial Intelligence (kecerdasan buatan) menjadi tantangan bagi regenerasi saat mencari pekerjaan hingga dalam lingkup dunia kerja.

Pandangan ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam Career Talkshow yang menghadirkan pihak Telkomsel dan pengajar Universitas Hasanuddin (Unhas) Direktur Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin Prof Suhasman di Makassar, Selasa.

Vice President People Development and Management Telkomsel Dudun Abdul Falah Sidiq menyebut AI dapat dimanfaatkan untuk membantu melakukan identifikasi maupun analisis masalah. Namun, sudut pandang dan keputusan tetap harus berasal dari manusia.

"Dan ini sangat penting dalam dunia kerja, mengambil keputusan dengan risiko paling minim, bukan hanya bagi diri kita, tapi juga bagi tim dan perusahaan," katanya.

Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis sehingga tidak sekadar menerima informasi atau jawaban yang diberikan oleh AI," kata dia.

Sebab baginya, salah satu karakter yang harus dimiliki mahasiswa dan regenerasi selanjutnya ialah rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu tersebut, mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi masalah, memahami akar persoalan, serta mencari berbagai kemungkinan solusi yang dituangkan dalam sebuah keputusan.

"Mahasiswa harus mampu melihat berbagai persoalan dan isu yang ada di sekitarnya," tambahnya.

Selain critical thinking, mahasiswa juga perlu dilatih untuk mampu berkolaborasi dan beradaptasi. Sikap terbuka terhadap berbagai perspektif menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan.

Dengan kemampuan tersebut, mahasiswa diyakini mampu bertahan dan berkembang di mana pun berada serta memiliki nilai yang kuat sebagai individu.

Direktur Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin Prof Suhasman mengemukakan bahwa perguruan tinggi berada dalam momentum turbulensi teknologi, khususnya dengan berkembangnya kecerdasan buatan atau AI. Sementara Unhas dalam menghadapi perkembangan AI masih berada dalam tahap adaptasi.

"Perguruan tinggi perlu memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta bagaimana menyusun aturan yang tepat," ujarnya.

Hal ini menjadi tantangan karena perkembangan AI berlangsung sangat cepat, sementara regulasi dan pemanfaatannya masih terus berkembang.

Dia menjelaskan berbagai laporan dan penelitian menunjukkan bahwa kemampuan nonteknis semakin menentukan keberhasilan seseorang. Karena itu, pada 2023, Unhas melakukan perubahan kurikulum yang secara khusus memberikan ruang lebih besar bagi pengembangan soft skill mahasiswa.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk membentuk karakter mahasiswa yang memiliki nilai dan prinsip yang kuat dan mampu bersaing saat menghadapi fase pencarian kerja.

"Mahasiswa perlu memahami nilai seperti apa yang ingin dibangun dan dikenang dari dirinya ketika kelak berada di tengah masyarakat maupun dunia profesional," kata dia.

Pewarta: Nur Suhra Wardyah
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.