Jakarta (ANTARA) - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Muzani menyatakan Konferensi Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 menjadi momentum bersejarah untuk mentransformasi dan mengubah peta pendidikan dunia.

“Melalui ajang internasional ini, sistem pendidikan Islam holistik berbasis pesantren khas Indonesia ditargetkan menjadi rujukan utama global dalam membentuk karakter dan kepemimpinan masa depan,” kata Ahmad Muzani di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan bahwa pendidikan adalah jalan untuk memastikan bahwa kemerdekaan yang diwariskan oleh para pendiri bangsa dapat terus dirawat dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Kemudian mencerdaskan kehidupan bangsa memiliki makna yang sangat mendalam yaitu menghadirkan pendidikan yang holistik yakni pendidikan yang tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga mengukuhkan akhlak dan karakter kebangsaan.

Dirinya menyoroti keberhasilan Pondok Pesantren Gontor yang selama satu abad telah membuktikan efektivitas sistem pendidikan holistik yang memadukan ilmu keagamaan, pengetahuan umum, bahasa internasional, serta kemandirian.

Memasuki abad kedua, tantangan utamanya adalah membawa formula pendidikan holistik berbasis pesantren ini mengglobal dan menjadi rujukan dunia.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), dirinya mengingatkan agar kemajuan teknologi diimbangi dengan kedalaman akhlak dan moralitas.

"Dari Gontor untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia, dan dari santri untuk kemanusiaan. Mari jadikan momentum 100 tahun ini sebagai titik balik kebangkitan peradaban Indonesia melalui pendidikan yang berkarakter dan berakhlak mulia," kata dia.

Ahmad Muzani menegaskan pentingnya konsolidasi pendidikan Islam berbasis nilai-nilai pesantren sebagai pilar utama pembentukan karakter dan kebangkitan peradaban bangsa.

Menurut dia amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan investasi peradaban jangka panjang.

Penegasan ini juga disampaikan Ahmad Muzani dalam Konferensi Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 yang diselenggarakan dalam rangka peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Hotel Borobudur, Jakarta pada Sabtu (5/9)

Sementara Ketua Panitia GIHES 2026, Kiai Haji Anang Rikza Masyhadi menekankan pentingnya mempertemukan gagasan dan memperkuat kolaborasi antar-lembaga untuk mewujudkan transformasi peta pendidikan global tersebut.

"Kami tidak sekadar berkumpul untuk menyelenggarakan sebuah konferensi. Namun sedang mempertemukan gagasan, pengalaman, jejaring, dan harapan untuk bersama-sama memikirkan masa depan pendidikan Islam yang lebih holistik, unggul, adaptif, dan berwawasan global," katanya.

Kiai Anang menegaskan bahwa isu pendidikan Islam holistik kini telah menjadi agenda bersama seluruh ekosistem pendidikan.

Ia menyebutkan konferensi ini dihadiri 283 peserta mewakili 209 lembaga yang mencakup 160 pesantren, 22 sekolah/madrasah, 15 perguruan tinggi, serta tujuh organisasi Islam dari seluruh penjuru Nusantara.

Selain itu, delegasi internasional dari Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Mesir, Amerika Serikat, Tiongkok, hingga Turki turut hadir untuk mengadopsi serta mengembangkan enam fokus isu utama pendidikan holistik.

“Melalui konsolidasi nasional dan internasional ini, GIHES 2026 membangun optimisme dapat mengubah peta pendidikan dunia dengan menjadikan sistem pendidikan holistik Indonesia sebagai rujukan global peradaban masa depan,” kata dia.

Baca juga: Ponpes Darul Amanah perkuat jejaring global dengan sejumlah duta besar

Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.