Beijing (ANTARA) - Bagi banyak penggemar sepak bola di China, musim panas tahun ini menjadi musim yang menghadirkan kebahagiaan ganda.
Setelah menyaksikan para bintang favorit mereka berlaga dalam ajang Piala Dunia, mereka kemudian memadati stadion-stadion lokal untuk memberikan dukungan kepada tim kota asal masing-masing dalam liga sepak bola akar rumput.
China kembali absen dari panggung Piala Dunia FIFA, tetapi hal itu sama sekali tidak mengurangi kecintaan masyarakatnya terhadap sepak bola.
Di berbagai platform media sosial China, pembahasan mengenai Piala Dunia terus berlangsung dengan antusiasme tinggi. Setiap gol, setiap kontroversi, dan setiap aksi gemilang para bintang sepak bola dunia selalu memicu gelombang perhatian.
Namun, wujud paling nyata dari kecintaan itu justru berada di dalam negeri.

Di seluruh China, "gelombang" liga kota amatir melanda berbagai komunitas, menghadirkan "Piala Dunia akar rumput" versi mereka sendiri bagi para penggemar.
Turnamen-turnamen tersebut jauh melampaui sekadar pertandingan persahabatan. Turnamen-turnamen ini memberi kesempatan kepada berbagai lapisan masyarakat untuk mengejar impian mereka di dunia sepak bola, sekaligus mengubah banyak penonton yang baru pertama kali datang ke stadion menjadi pendukung setia.
Yang lebih penting, kompetisi-kompetisi lokal ini menjadikan sepak bola sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, budaya setempat, konsumsi, dan pembangunan perkotaan.
Salah satu contohnya adalah Su Super League Jiangsu, yang memulai musim barunya pada April lalu. Liga tersebut memperkenalkan bola resmi pertandingannya, Trionda, bahkan sebelum Piala Dunia bergulir pada musim panas tahun ini, dan mulai mengadopsi teknologi VAR untuk meningkatkan standar profesional.

Tahun lalu, 85 pertandingan di liga akar rumput sukses menyedot 2,43 juta penonton di stadion dan ditonton lebih dari 2,2 miliar kali secara daring. Tahun ini, jumlah penontonnya terus meningkat.
Lonjakan popularitas sepak bola akar rumput yang berjarak ribuan kilometer dari kemegahan Piala Dunia telah menciptakan kekontrasan yang menarik antara ketidakhadiran dan kehadiran. China mungkin absen dari pentas paling megah tersebut, tetapi sepak bola itu sendiri benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat umum di negara itu.
Para penggemar China sebenarnya peduli dengan hasil pertandingan, peringkat, dan performa tim nasionalnya. Tidak sedikit dari mereka yang patah hati ketika mimpi untuk lolos ke putaran final harus sirna. Namun, di balik rasa frustrasi itu, tersimpan secercah harapan yang jauh lebih kuat.
Ketika tim nasional (timnas) U-23 China meraih pencapaian terbaiknya dengan menembus babak final Piala Asia U23 AFC pada Januari lalu, performa tersebut mendapat dukungan luas dari para pendukung. Bagi banyak penggemar, pesan yang disampaikan begitu sederhana: "Mungkin ini adalah sebuah awal baru".

Meningkatnya popularitas liga sepak bola kota, ditambah dengan semakin banyaknya kesempatan bagi pemain muda untuk berkompetisi dan berkembang, telah membuka jalur yang lebih realistis ke depannya.
Alih-alih larut dalam kegundahan akibat kegagalan untuk lolos ke Piala Dunia, semakin banyak penggemar memilih menempuh perjalanan panjang untuk membangun ekosistem sepak bola yang lebih sehat dari tingkat dasar.
Di seluruh China, berbagai kota menyesuaikan program pengembangan pemuda dengan kondisi lokal, memperluas pusat pelatihan multilevel, meningkatkan jumlah lapangan sepak bola, serta mengirim lebih banyak pemain remaja ke luar negeri untuk menjalani pelatihan dan pertukaran internasional.

Jangkauan budaya sepak bola juga terus meluas. Baru-baru ini, penonton di China Daratan menyambut film komedi terbaru "Kungfu Soccer" garapan Stephen Chow, yang mencatat rekor pendapatan box office pada musim panas tidak lama setelah dirilis.
Mengangkat tema sepak bola, film tersebut menghadirkan tawa bagi keluarga sekaligus menanamkan minat terhadap cabang olahraga ini di kalangan generasi baru.
Kebangkitan sepak bola China tidak akan terjadi dalam semalam. Perjalanan ke depan akan panjang, penuh tantangan, dan tidak lepas dari berbagai kemunduran. Namun, banyak penggemar terinspirasi dari perjalanan luar biasa Tanjung Verde di Piala Dunia, yang menjadi pengingat bahwa tekad dan keberanian dapat mengubah ekspektasi.
Sepak bola selalu menghargai kesabaran. Dengan upaya berkelanjutan dari para pemain, komunitas, dan institusi, harapan China di lapangan hijau akan menemukan momennya untuk bersinar di panggung terbesar.
Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.