"Pasien dari Tambora, Langgudu, dan wilayah lain yang jauh terkadang kesulitan mobilisasi. Karena itu layanan yang lebih dekat sangat membantu keberlanjutan pengobatan,"

Bima (ANTARA) - Sekitar 95 persen orang dengan HIV (ODHIV) yang mendapatkan layanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima, Nusa Tenggara Barat, rutin mengambil obat antiretroviral (ARV), sementara sebagian lainnya menghadapi kendala dalam mempertahankan pengobatan.

Humas sekaligus Konselor dan Tim Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) HIV RSUD Bima dr. Muhammad Akbar mengatakan kendala yang dihadapi pasien antara lain karena merantau, jarak tempat tinggal yang jauh, dan kehilangan kontak dengan petugas kesehatan.

"Pasien dari Tambora, Langgudu, dan wilayah lain yang jauh terkadang kesulitan mobilisasi. Karena itu layanan yang lebih dekat sangat membantu keberlanjutan pengobatan," katanya kepada ANTARA, Minggu.

Data RSUD Bima mencatat sebanyak 232 pasien HIV mendapatkan layanan di rumah sakit tersebut selama periode 2023–2026. Dari jumlah itu, 178 orang laki-laki dan 54 perempuan.

Berdasarkan kelompok usia, sebanyak 167 pasien berada pada rentang usia 20–39 tahun, 44 orang berusia 40–59 tahun, sembilan orang berusia 15–19 tahun, sembilan orang berusia di bawah 14 tahun, dan tiga orang berusia 60 tahun ke atas.

Akbar mengatakan keberlanjutan terapi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan obat, tetapi juga kemampuan pasien mempertahankan hubungan dengan fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurut dia, sebagian pasien mengalami hambatan sosial berupa rasa malu atau penolakan terhadap status HIV sehingga berhenti mengakses layanan.

Akbar mencontohkan seorang pasien remaja yang sebelumnya rutin menjalani terapi dan kondisi fisiknya membaik, tetapi kemudian kehilangan kontak dengan layanan kesehatan. Rumah sakit kemudian menerima informasi bahwa pasien tersebut meninggal dunia.

"Kami tidak ingin pasien yang sudah mendapatkan pengobatan kemudian putus terapi karena kehilangan akses atau tidak lagi terhubung dengan layanan," ujarnya.

Dari sisi ketersediaan obat, Akbar mengatakan stok ARV di RSUD Bima pada umumnya mencukupi. Keterlambatan distribusi dari pemerintah pusat terkadang terjadi, tetapi kekosongan ARV sangat jarang.

Untuk memperkuat akses layanan, Puskesmas Woha dan Puskesmas Sape saat ini telah dapat memberikan pengobatan ARV.

Selain pengobatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bima bersama RSUD Bima dan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Bima juga melakukan edukasi dan skrining HIV secara berkala.

Edukasi dilakukan di sekolah, kampus, dan sejumlah instansi, sedangkan penjangkauan lapangan menyasar populasi kunci serta kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko.

Akbar mengatakan deteksi dini perlu berjalan beriringan dengan kemudahan akses terapi agar pasien yang terdiagnosis HIV dapat segera memperoleh ARV dan mempertahankan pengobatan.

"Yang penting bukan hanya menemukan kasus, tetapi memastikan pasien tetap terhubung dengan layanan dan menjalani pengobatan secara rutin," katanya.

Pewarta : Ady Ardiansah
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026