Setelah melahirkan, tubuh Bunda tidak langsung kembali seperti sebelum hamil. Ada banyak perubahan yang terjadi selama masa postpartum, mulai dari perubahan hormon, ukuran rahim, produksi ASI, hingga kondisi emosional.
Beberapa perubahan bahkan mungkin terasa cukup unik. Bunda bisa berkeringat lebih banyak pada malam hari, rambut rontok cukup deras, masih terlihat seperti hamil, atau tiba-tiba sulit menahan pipis ketika batuk dan bersin.
Meski terkadang membuat khawatir, sebagian kondisi tersebut memang umum terjadi setelah persalinan. Berikut sembilan kondisi unik tetapi umumnya masih wajar dialami Bunda, lengkap dengan penjelasan berdasarkan penelitian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Berkeringat lebih banyak, terutama pada malam hari
Bunda mungkin merasa tubuh lebih mudah berkeringat setelah melahirkan, terutama pada malam hari. Kondisi ini dapat terasa seperti tubuh tiba-tiba menjadi lebih panas atau mengalami night sweats.
Keluhan tersebut memang ditemukan dalam penelitian pada perempuan selama masa postpartum.
Penelitian dari University of Pittsburgh dan diterbitkan dalam jurnal Fertility and Sterility pada 2013 menemukan bahwa 29 persen dari 429 perempuan yang diteliti melaporkan mengalami nighttime hot flashes setelah melahirkan.
Penelitian tersebut mengikuti para perempuan sejak masa kehamilan hingga satu tahun setelah persalinan. Hasilnya menunjukkan bahwa sensasi panas pada malam hari ternyata bukan hanya terjadi pada perempuan menopause, tetapi juga dapat dialami selama kehamilan dan postpartum.
Penelitian lain mengenai kesehatan fisik perempuan pada tahun pertama setelah melahirkan juga menemukan bahwa peningkatan keringat dan hot flashes termasuk keluhan yang cukup sering ditemukan pada bulan pertama postpartum. Studi tersebut melibatkan 436 ibu baru dan diterbitkan dalam Journal of Family Practice.
Perubahan hormon setelah persalinan dan proses adaptasi tubuh diduga berperan dalam perubahan pengaturan suhu tersebut. Bunda bisa menggunakan pakaian yang menyerap keringat, menjaga kamar tetap sejuk, serta mengganti pakaian atau seprai jika basah.
Namun, bila keringat berlebih disertai demam, menggigil, nyeri, atau tubuh terasa sangat lemas, jangan langsung menganggapnya sebagai perubahan normal postpartum. Kondisi tersebut perlu diperiksa untuk memastikan tidak ada infeksi.
2. Rambut tiba-tiba rontok banyak
Setelah melahirkan, Bunda mungkin melihat rambut lebih banyak tertinggal di sisir, bantal, atau saluran kamar mandi.
Kondisi ini dikenal sebagai postpartum hair loss atau postpartum telogen effluvium. Rambut memasuki fase rontok secara lebih banyak setelah perubahan siklus pertumbuhan rambut yang terjadi selama dan setelah kehamilan.
Dalam penelitian yang diterbitkan di Annals of Pharmacotherapy, J.H. Eastham menjelaskan bahwa postpartum alopecia merupakan kerontokan rambut yang bersifat difus dan biasanya mulai terjadi sekitar 2–5 bulan setelah persalinan.
Sementara itu, penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Women's Dermatology pada 2024, mengevaluasi 200 perempuan dengan kerontokan rambut postpartum.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kerontokan rambut postpartum tidak selalu berdiri sendiri. Sebanyak 56 persen peserta mengalami telogen effluvium yang disertai androgenetic alopecia, sedangkan 28 persen mengalami telogen effluvium, androgenetic alopecia, dan traction alopecia sekaligus.
Karena itu, kerontokan rambut setelah melahirkan memang umum, tetapi bila sangat berat, berlangsung lama, atau menyebabkan penipisan rambut yang jelas, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kulit.
3. Bau badan lebih tajam
Perubahan bau badan juga bisa terjadi setelah melahirkan. Bunda mungkin merasa aroma keringat menjadi lebih kuat dibandingkan sebelum hamil.
Salah satu penyebab yang mungkin adalah meningkatnya produksi keringat dan perubahan fisiologis tubuh selama masa postpartum.
Penelitian mengenai kesehatan fisik ibu setelah melahirkan mendukung bahwa peningkatan keringat memang termasuk salah satu keluhan yang dilaporkan pada periode postpartum awal. Dalam studi terhadap 436 ibu baru, increased sweating tercatat sebagai salah satu masalah fisik yang lebih sering ditemukan pada bulan pertama setelah persalinan.
Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus membuktikan bahwa perubahan hormon menyebabkan bau badan menjadi lebih kuat. Jadi, untuk bagian ini lebih tepat dikatakan bahwa keringat yang meningkat dapat membuat aroma tubuh terasa berbeda, bukan bahwa perubahan bau badan pasti disebabkan oleh hormon tertentu.
Bunda dapat menjaga kebersihan tubuh, mengganti pakaian ketika berkeringat, dan menggunakan pakaian yang menyerap keringat.
Yang perlu diperhatikan adalah bila bau tidak sedap berasal dari vagina atau luka persalinan, terutama jika disertai demam, nyeri, atau cairan yang tidak normal. Kondisi tersebut perlu diperiksa karena dapat menjadi tanda infeksi.
4. Perut masih terlihat seperti hamil
Sudah melahirkan tetapi perut masih terlihat besar? Jangan langsung khawatir, Bunda. Rahim membutuhkan waktu untuk kembali ke ukuran sebelum hamil. Proses ini disebut involusi uterus.
Penelitian menggunakan pemeriksaan ultrasonografi terhadap 91 perempuan dengan masa postpartum normal menunjukkan bahwa volume rahim berkurang sekitar 44,8 persen pada hari ketujuh setelah persalinan. Penelitian tersebut diterbitkan dalam Journal of Medical Ultrasonics dan menunjukkan bahwa proses involusi berlangsung cukup cepat pada periode awal postpartum.
Studi lain yang dilakukan terhadap 81 perempuan dan mengikuti perubahan rahim selama tujuh minggu juga menemukan bahwa involusi rahim berlangsung sangat cepat dalam dua minggu pertama setelah melahirkan. Artinya, wajar jika bentuk perut Bunda belum langsung kembali seperti sebelum hamil.
Selain ukuran rahim, otot dan jaringan di sekitar perut juga mengalami peregangan selama kehamilan sehingga bentuk tubuh membutuhkan waktu untuk pulih. Jadi, Bunda tidak perlu terburu-buru melakukan diet ketat atau olahraga berat hanya karena perut belum rata.
5. Mengalami kram seperti menstruasi, terutama saat menyusui
Kram atau rasa mulas setelah melahirkan juga cukup umum terjadi. Sensasinya dapat menyerupai nyeri menstruasi.
Rasa tersebut berkaitan dengan kontraksi rahim yang sedang berusaha kembali ke ukuran semula sekaligus membantu mengurangi perdarahan setelah persalinan.
Menyusui juga dapat menyebabkan kontraksi rahim terasa lebih kuat karena aktivitas menyusui merangsang pelepasan hormon oksitosin.
Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 2020 menganalisis 29 penelitian yang melibatkan total 601 perempuan. Hasilnya menunjukkan bahwa menyusui menyebabkan pelepasan oksitosin secara cepat dan berlangsung dalam pola berdenyut, terutama pada periode awal postpartum.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam Breastfeeding Medicine pada 2009, juga mengukur kadar oksitosin ibu saat bayi menyusu pada hari kedua setelah persalinan. Semua kelompok ibu dalam penelitian tersebut menunjukkan pola pelepasan oksitosin selama proses menyusui.
Jadi, rasa mulas yang muncul ketika menyusui dapat menjadi bagian dari proses kontraksi rahim. Namun, jika nyeri sangat hebat, semakin parah, atau disertai demam maupun perdarahan yang tidak normal, Bunda perlu memeriksakan diri.
6. Darah nifas keluar selama beberapa minggu
Darah nifas atau lokia merupakan bagian normal dari proses pemulihan setelah melahirkan. Lokia terdiri dari darah, lendir, dan jaringan dari rahim yang dikeluarkan setelah persalinan.
Warna dan jumlahnya biasanya berubah secara bertahap. Pada awalnya berwarna merah, kemudian dapat menjadi merah muda atau kecokelatan, sebelum akhirnya berubah menjadi lebih kekuningan atau keputihan.
Selain itu, penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Women's Health pada 2012 dengan judul Lochia Patterns Among Normal Women: A Systematic Review, meneliti 333 penelitian dan akhirnya memasukkan 18 studi yang memenuhi kriteria. Hasil review tersebut menunjukkan bahwa durasi perdarahan normal setelah persalinan sangat bervariasi, dengan rata-rata durasi dalam berbagai penelitian berkisar antara 24–36 hari.
Jadi, Bunda tidak perlu langsung panik jika lokia tidak berhenti hanya dalam beberapa hari. Durasi dapat berbeda pada setiap perempuan.
Meski demikian, perdarahan yang sangat banyak atau tiba-tiba menjadi jauh lebih deras bukan kondisi yang boleh diabaikan. Begitu pula jika perdarahan disertai pusing, lemas, demam, atau nyeri hebat.
7. Sulit menahan pipis ketika batuk atau bersin
Setelah melahirkan, sebagian Bunda mungkin mengalami kebocoran urine ketika batuk, bersin, tertawa, berlari, atau mengangkat sesuatu.
Kondisi ini disebut stress urinary incontinence dan dapat berkaitan dengan perubahan pada otot dasar panggul serta jaringan penyangga kandung kemih setelah kehamilan dan persalinan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica pada 2010 mengenai inkontinensia urine pada tahun pertama setelah melahirkan. Mereka menemukan bahwa prevalensi inkontinensia urine dalam tiga bulan pertama postpartum mencapai sekitar 33 persen. Pada kelompok perempuan yang melahirkan secara vaginal, prevalensinya sekitar 31 persen, dibandingkan 15 persen pada kelompok persalinan sesar.
Hasil serupa ditemukan dalam systematic review dan meta-analysis yang lebih baru. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Urogynecology Journal pada 2021, menganalisis 24 studi dengan total 35.064 perempuan menemukan prevalensi rata-rata inkontinensia urine postpartum sebesar 31 persen. Stress urinary incontinence menjadi jenis yang paling banyak ditemukan.
Jadi, kebocoran urine setelah melahirkan memang cukup umum, tetapi bukan berarti Bunda harus membiarkannya jika terus terjadi.
Latihan otot dasar panggul dapat menjadi salah satu bagian dari penanganan. Jika keluhan menetap atau mengganggu aktivitas sehari-hari, Bunda dapat berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis kesehatan panggul.
8. Payudara tiba-tiba terasa penuh, keras, dan berat
Beberapa hari setelah melahirkan, payudara Bunda bisa terasa sangat penuh, berat, kencang, atau keras. Kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya produksi ASI yang dikenal sebagai lactogenesis II.
Pada fase ini, produksi ASI meningkat secara signifikan setelah persalinan.
Dalam penelitian prospektif terhadap 177 perempuan, median waktu terjadinya lactogenesis II adalah 72,4 jam setelah persalinan. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kontak pertama dengan bayi yang terjadi dua jam atau lebih setelah persalinan berkaitan dengan kemungkinan lebih besar mengalami keterlambatan lactogenesis II.
Penelitian lain terhadap 360 perempuan di China menemukan bahwa sekitar 23,6 persen peserta mengalami keterlambatan onset lactogenesis. Kondisi tersebut dalam penelitian berkaitan dengan beberapa faktor, termasuk diabetes gestasional, persalinan sesar, dan BMI sebelum hamil yang lebih tinggi.
Jadi, payudara yang terasa lebih penuh beberapa hari setelah melahirkan dapat menjadi bagian dari proses normal peningkatan produksi ASI. Namun, bila payudara terasa sangat nyeri, merah, panas, atau disertai demam dan menggigil, Bunda perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
9. Mood berubah-ubah dan mudah menangis
Selain perubahan fisik, kondisi emosional Bunda juga dapat berubah setelah melahirkan.
Bunda mungkin merasa bahagia karena akhirnya bertemu Si Kecil, tetapi di waktu lain tiba-tiba menangis, mudah tersinggung, cemas, atau merasa kewalahan. Kondisi ini sering disebut baby blues atau maternity blues.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Obstetric, Gynecologic & Neonatal Nursing pada 2020 melakukan penelitian terhadap 26 penelitian dengan total 5.667 perempuan. Penelitian tersebut menemukan prevalensi maternity blues sekitar 39 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan emosional setelah persalinan cukup umum terjadi.
Namun, Bunda perlu membedakan baby blues dengan depresi postpartum.
Systematic review dan meta-analysis yang dilakukan oleh Wang dan kolega terhadap 27 studi dengan 133.313 perempuan menemukan prevalensi depresi postpartum sekitar 14 persen. Penelitian tersebut diterbitkan pada 2021 dan menunjukkan bahwa depresi postpartum merupakan kondisi yang cukup sering terjadi serta perlu mendapatkan perhatian medis.
Karena itu, apabila kesedihan, kecemasan, kehilangan minat, rasa tidak berharga, atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari berlangsung terus-menerus dan semakin berat, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Jika muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, segera cari bantuan medis dan jangan menghadapi kondisi tersebut sendirian.
Kapan Bunda perlu memeriksakan diri?
Tidak semua perubahan setelah melahirkan merupakan tanda adanya masalah. Banyak di antaranya merupakan bagian dari proses pemulihan tubuh.
Namun, Bunda tetap perlu waspada terhadap tanda bahaya. Segera hubungi tenaga kesehatan jika mengalami:
- Perdarahan yang sangat banyak atau tiba-tiba semakin deras;
- Demam atau menggigil;
- Nyeri hebat atau nyeri yang semakin memburuk;
- Sesak napas atau nyeri dada;
- Sakit kepala berat atau gangguan penglihatan;
- Luka persalinan semakin nyeri, bengkak, atau mengeluarkan cairan bernanah;
- Payudara sangat nyeri, merah, dan disertai demam;
- Perubahan suasana hati yang berat atau muncul keinginan menyakiti diri sendiri maupun bayi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)