Jakarta -
Kopi luwak dikenal mahal karena langka dan punya proses produksi unik. Tak hanya demi keuntungan, produsen juga mementingkan kesejahteraan luwak.
Kopi luwak dikenal sebagai salah satu kopi paling unik di dunia. Harganya pun kerap membuat pencinta kopi penasaran.
Di balik secangkir kopi ini, ada proses panjang yang melibatkan hewan dan biji kopi. Popularitasnya juga membuat kopi luwak memiliki citra sebagai minuman eksklusif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, harga tinggi tidak selalu berarti kualitas rasa yang paling unggul. Ada sejumlah faktor lain yang ikut membuat kopi ini bernilai mahal.
Berikut ini 5 alasan kopi luwak berharga tinggi:
Proses produksi kopi luwak yang mahal disebabkan oleh kerumitannya. Foto: Lusiana Mustinda/detikHikmah
1. Proses Produksi yang Rumit
Kopi luwak dibuat dari biji kopi yang dimakan luwak. Biji tersebut kemudian keluar bersama kotoran, lalu dikumpulkan untuk diproses menjadi kopi.
Di dalam pencernaan luwak, biji mengalami pengaruh enzim dan mikroorganisme. Proses ini disebut dapat membuat rasa kopi lebih lembut dan tingkat keasamannya lebih rendah.
Setelah dikumpulkan, biji harus dicuci dan dikeringkan. Biji kemudian dikupas, disortir, disangrai, lalu diolah seperti kopi pada umumnya.
2. Stoknya Terbatas
Kopi luwak yang berasal dari luwak liar membutuhkan proses pengumpulan secara manual. Biji kopi harus dicari dari kotoran luwak yang hidup bebas di habitatnya.
Cara tersebut membuat jumlah biji yang bisa diperoleh relatif terbatas. Pasokan yang sedikit kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong harga kopi luwak menjadi tinggi.
National Geographic mencatat harga kopi luwak bisa mencapai US$600 (Rp10,5 juta) per 450 gram untuk biji yang dikumpulkan dari luwak liar. Jika dijual sebagai minuman, harganya bahkan dapat mencapai US$100 (Rp1,7 juta) per cangkir.
3. Dianggap Kopi Premium
Ada faktor lain yang membuat kopi luwak berbeda dari kopi biasa, yakni cerita di balik produksinya. Biji kopi yang berasal dari kotoran hewan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
National Geographic menyebut unsur kebaruan atau novelty menjadi salah satu alasan kopi seperti ini diminati. Cerita unik tersebut membuat kopi luwak cocok dipasarkan sebagai produk eksklusif.
Jadi, harga kopi luwak tidak hanya dibentuk oleh rasa. Kelangkaan, eksotisme, status dan cerita di balik produknya ikut membentuk harga jual di pasaran.
Walaupun harganya mahal tetapi tak menjamin rasanya. Foto: Site News
4. Harga tak Jadi Penentu Rasa
Kopi luwak sering dianggap memiliki kualitas lebih tinggi dibandingkan kopi biasa. Padahal, kopi luwak bukan varietas kopi tersendiri, melainkan metode pengolahan khusus.
Jenis bijinya tetap bisa berasal dari Arabika maupun Robusta. Kualitas akhirnya juga tetap dipengaruhi varietas, budidaya, pengolahan dan proses sangrai.
Dalam laman Afro Coffee disebut kopi luwak tidak otomatis menjadi kopi istimewa hanya karena melewati pencernaan luwak. Dalam uji rasa tanpa mengetahui identitas kopi, produk ini bahkan kerap dinilai berada di kelas menengah.
5. Perhatian untuk Hewan Luwak
Popularitas kopi luwak turut memunculkan persoalan tentang kesejahteraan hewan. National Geographic melaporkan luwak yang dipelihara di sejumlah perkebunan pernah ditemukan dalam kondisi kandang yang buruk.
Masalah lainnya adalah pemberian makanan yang tidak seimbang. Luwak di alam merupakan hewan omnivora, sedangkan luwak dalam penangkaran dapat diberi buah kopi secara berlebihan.
Jadi, label kopi luwak liar juga perlu diperhatikan. National Geographic menyebut asal biji sulit diverifikasi, sehingga konsumen tidak selalu bisa memastikan kopi benar-benar berasal dari luwak liar.
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Rasakan Kreasi Menu di Dunia Wonderland ala Mie Sedaap Ini!"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/adr)