Pemulihan sawah terdampak bencana di Kabupaten Bireuen, Aceh, mulai memberikan hasil nyata bagi petani. Lahan rusak ringan dan sedang di sejumlah wilayah telah kembali ditanami, bahkan sekitar 300 hektare sawah di Kecamatan Samalanga mulai mendekati masa panen.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, sekitar 4.731 hektare sawah terdampak dari total 15.718 hektare lahan pertanian di daerah tersebut. Pemulihan dilakukan secara bertahap melalui rehabilitasi lahan, pengolahan tanah, dan perbaikan jaringan irigasi.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Mulyadi, mengatakan sebagian besar sawah berkategori rusak ringan dan sedang telah kembali berfungsi. Penanganan masih dilanjutkan pada sejumlah lokasi yang pasokan airnya belum pulih karena jaringan irigasi sedang diperbaiki.

Perkembangan positif terlihat di Gandapura dan Samalanga. Lahan di Gandapura telah kembali berfungsi sebagai persawahan, sementara tanaman padi di Samalanga telah berusia sekitar 80 hari dan bersiap memasuki masa panen.

“Termasuk yang Gandapura sudah berfungsi seperti sawah sebelumnya. Sawah di Samalanga sekarang umur padinya sudah 80 hari,” kata Mulyadi saat peninjauan pemulihan lahan bersama Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera di Samalanga, Bireuen, Jumat (23/10/2026).

Petani juga menjaga lahan yang belum sepenuhnya pulih agar tetap produktif. Di Pante Baro Buket Panyang, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, sebagian lahan rusak berat dan sedang sementara dimanfaatkan untuk menanam jagung sembari menunggu rehabilitasi sawah dan perbaikan irigasi selesai.

Progres di Bireuen menjadi bagian dari pemulihan pertanian di berbagai wilayah Aceh. Penanggung Jawab Swasembada Pangan Provinsi Aceh, Agus Susanto, mengatakan sekitar 50 persen sawah rusak ringan dan sedang di provinsi tersebut telah pulih. Pertumbuhan tanaman pada lahan yang direhabilitasi juga menunjukkan kondisi yang baik.

“Kami sudah melihat tanaman pada fase vegetatif begitu subur dan hijau. Kalau nanti dipanen pada musim rendengan ini, insyaallah produksinya akan meningkat dibandingkan 2025,” ujar Agus.

Penanganan berikutnya difokuskan pada sawah rusak berat yang masih melalui tahapan survei, investigasi dan desain, konstruksi, serta pengolahan lahan. Penyelesaian pekerjaan tersebut diperlukan agar semakin banyak petani dapat kembali menanam dan mempertahankan sumber pendapatannya.

Sejalan dengan rehabilitasi lahan, peningkatan produktivitas didorong melalui penerapan Modern Advanced Agriculture System. Program tersebut ditargetkan meningkatkan hasil panen dari kisaran 5–6 ton menjadi 10–11 ton per hektare sekaligus mendukung pencapaian Indeks Pertanaman 2 atau dua kali panen dalam setahun.

Wakil Kepala Perencanaan, Pengendalian, Analisis, dan Evaluasi Satgas PRR, Imran, mengapresiasi kemajuan pemulihan sawah di Aceh. Ia mendorong agar pemulihan diikuti peningkatan intensitas tanam sehingga ketahanan pangan dan pendapatan petani semakin kuat.

“Untuk Aceh, indeks pertanaman sedang dikejar sampai IP2. Tentunya kita berharap tidak hanya sampai IP2, tetapi bisa mencapai IP2,5, bahkan IP3 nantinya,” kata Imran.