Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:00 WIB
VIVA – Obesitas kini menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa 23,4 persen orang dewasa Indonesia mengalami obesitas, atau hampir 1 dari 4 orang dewasa. Angka tersebut bahkan lebih tinggi pada perempuan, yakni 31,2 persen, dibandingkan 15,7 persen pada laki-laki.
Baca Juga
Kondisi ini bukan hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga berkaitan erat dengan peningkatan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, stroke, hingga beberapa jenis kanker. Para ahli menilai bahwa pemahaman masyarakat mengenai obesitas masih perlu diperbaiki karena banyak orang menganggap kondisi tersebut semata-mata akibat pola makan yang buruk atau kurangnya aktivitas fisik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., menegaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan berat badan.
Baca Juga
“Obesitas bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup. Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan terus berkembang di Indonesia. Untuk menangani obesitas, kita perlu memperkuat edukasi mengenai penanganan obesitas dan mendorong perubahan perilaku masyarakat, sehingga orang yang hidup dengan obesitas dapat memperoleh penanganan yang tepat," ujarnya saat konferensi pers "Peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas #BeraniBicaraBerat," yang digelar APL di Jakarta, Jumat 14 Agustus 2026.
Menurut para ahli, obesitas dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk faktor biologis, genetik, kondisi medis yang mendasari, perilaku kesehatan, hingga lingkungan tempat seseorang hidup. Karena kompleksitas tersebut, perubahan gaya hidup saja sering kali tidak cukup untuk menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan dan bertahan dalam jangka panjang.
Baca Juga
Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, menjelaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme biologis yang cenderung mempertahankan berat badan, sehingga penanganan obesitas membutuhkan pendekatan jangka panjang.
“Tubuh memiliki mekanisme biologis yang secara alami mempertahankan berat badan, sehingga pencapaian penurunan berat badan yang signifikan dan berkelanjutan melalui perubahan gaya hidup saja dapat menjadi tantangan. Oleh karena itu, penanganan obesitas memerlukan pendekatan jangka panjang, dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko komplikasi, bukan semata-mata berfokus pada pencapaian angka tertentu pada timbangan,” beber Prof Em Yunir.
Halaman Selanjutnya
Selain tantangan medis, orang yang hidup dengan obesitas juga kerap menghadapi stigma sosial. Mereka sering dianggap tidak disiplin atau tidak mampu menjaga pola hidup sehat. Persepsi semacam ini dapat membuat seseorang enggan mencari bantuan medis, padahal obesitas membutuhkan penanganan profesional yang berkelanjutan.